Pajak Sawit Dongkrak APBN Sumsel Tembus Rp7,95 Triliun Semester I 2026

Kamis, 30 Juli 2026 | 12:30:12 WIB
Ilustrasi Pajak (FOTO: NET)

PALEMBANG - Performa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di kawasan Sumatera Selatan sampai paruh pertama 2026 memperlihatkan tren yang sangat positif.

Setoran pendapatan negara dilaporkan menembus angka Rp7,95 triliun, disokong oleh kenaikan penerimaan pajak, utamanya dari industri kelapa sawit yang kembali menjadi penggerak utama penerimaan kas negara.

Catatan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Sumatera Selatan merekam pencapaian pendapatan negara sampai akhir Juni 2026 telah menembus 40,19 persen dari target APBN atau naik 17,87 persen jika disandingkan periode serupa tahun sebelumnya.

Pejabat dari sumbernya menyampaikan, kenaikan tersebut tak lepas dari membaiknya perolehan sektor perpajakan di pelbagai bidang usaha.

"Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara di Sumatera Selatan mencapai Rp7,95 triliun atau 40,19 persen dari target APBN, tumbuh 17,87 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja penerimaan pajak yang terus membaik," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Pencapaian penerimaan pajak di Sumatera Selatan hingga Juni 2026 menyentuh angka Rp6,095 triliun, atau 35,98 persen dari target APBN.

Nilai tersebut melambung 18,05 persen jika dibandingkan masa yang sama di tahun lampau.

Pejabat dari sumbernya menguraikan, kenaikan pendapatan utamanya dipicu Pajak Pertambahan Nilai sektor administrasi pemerintahan serta Pajak Penghasilan Badan.

Di tengah jajaran sektor bisnis, industri kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar bagi perolehan PPh Badan.

Urutan berikutnya diisi oleh bisnis perbankan umum konvensional serta industri pengolahan karet remah.

Dinamika tersebut mengindikasikan bahwa industri sawit masih menjadi salah satu pilar utama perekonomian Sumatera Selatan sekaligus sumber vital pendapatan negara.

Di sudut lain, perolehan dari sektor kepabeanan dan cukai mengalami pengikisan.

Sampai Juni 2026, angka perolehannya berada pada posisi Rp205,37 miliar atau 55,27 persen dari target, terkoreksi 20,08 persen jika dibandingkan tahun lalu.

Penyusutan ini disebabkan melandainya penerimaan Bea Keluar seiring turunnya volume pengiriman ekspor CPO beserta komoditas olahannya.

Berseberangan dengan sektor kepabeanan, Penerimaan Negara Bukan Pajak justru mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Angka capaiannya menyentuh Rp1,65 triliun atau 66,76 persen dari target APBN, melonjak 24,55 persen secara tahunan.

Sementara itu, pergerakan belanja negara di Sumatera Selatan sudah menyentuh Rp19,01 triliun atau 49,92 persen dari total pagu anggaran.

Pengeluaran pemerintah pusat menjadi salah satu bagian yang mencatatkan lompatan cukup drastis.

Sampai Juni 2026, realisasinya mencapai Rp7,14 triliun atau 47,43 persen dari pagu, menanjak 32,58 persen dibanding tahun sebelumnya.

Lompatan tersebut dipicu oleh penyesuaian gaji pokok ASN, penambahan kuota PPPK, percepatan pembelanjaan barang, hingga kenaikan alokasi belanja modal.

Adapun kucuran Transfer ke Daerah mencapai Rp11,88 triliun atau 51,55 persen dari pagu.

Kendati demikian, penyaluran TKD mengalami penurunan 18,33 persen lantaran adanya pemangkasan alokasi transfer pada APBN 2026.

Pejabat dari sumbernya menilai rentetan indikator ekonomi wilayah setempat masih dalam kondisi amat tangguh.

Angka inflasi Sumatera Selatan pada Juni 2026 berada di level 2,89 persen YoY dan tetap berada dalam batasan kisaran sasaran pemerintah.

Tingkat optimisme publik juga terpelihara tinggi dengan angka Indeks Keyakinan Konsumen menyentuh posisi 129,9.

Tingkat daya beli warga juga dipandang terjaga, tampak dari pertumbuhan PPN tanpa restitusi yang mencapai 18,3 persen, melesatnya impor bahan baku serta barang modal, dan pertumbuhan kredit investasi yang menyentuh 18,49 persen pada Mei 2026.

Sektor pertanian turut memperlihatkan dinamika yang bagus melalui Nilai Tukar Petani yang berada pada angka 149,39, yakni salah satu rekor tertinggi dalam kurun beberapa tahun terakhir.

Pada bidang perdagangan internasional, Sumatera Selatan tetap membukukan nilai surplus neraca perdagangan sebesar 2,17 miliar dolar AS sampai Juni 2026.

Nilai ekspor menembus 2,81 miliar dolar AS, yang didominasi oleh komoditas batu bara, karet, serta pulp, sedangkan impor tercatat 638,71 juta dolar AS, utamanya pada produk mesin, pupuk, dan pompa.

Kendati surplus perdagangan menurun imbas menyusutnya volume ekspor, pejabat dari sumbernya memastikan ketahanan fiskal Sumatera Selatan tetap dalam kondisi aman.

"Kementerian Keuangan melalui sinergi DJPb, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Direktorat Jenderal Kekayaan Negara akan terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, mengoptimalkan penerimaan negara, dan meningkatkan efektivitas belanja pemerintah," pungkasnya.

Terkini