Capaian Perdana Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp 1.036 Triliun Di 2026

Rabu, 29 Juli 2026 | 12:10:02 WIB
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong (FOTO: NET)

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mendokumentasikan penyaluran kredit menembus Rp 1.036 triliun pada semester I 2026 atau merangkak 8 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Torehan tersebut menjadi momentum perdana kredit BCA mampu menembus level Rp 1.000 triliun.

Dari sumbernya menyatakan ekspansi pembiayaan ditopang oleh sektor produktif yang terus melonjak di tengah dinamika perekonomian yang belum menentu.

Menurut penjelasannya, penyaluran kredit senantiasa dieksekusi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta memperhatikan daya dukung likuiditas perseroan.

"Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor," ujar dari sumbernya dalam paparan kinerja semester I 2026, Selasa (28/7/2026).

Penyaluran pembiayaan produktif menyentuh Rp 802 triliun atau terangkat 11 persen secara tahunan.

Dari angka itu, pembiayaan korporasi melaju 13,6 persen menjadi Rp 513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) terangkat 6,6 persen menjadi Rp 288,5 triliun.

Tingkat rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) masing-masing aman di level 4,9 persen dan 1,9 persen.

Melihat dari aspek pendanaan, perolehan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9 persen menjadi Rp 1.284 triliun.

Laju pertumbuhan tersebut ditopang dana giro dan tabungan (current account saving account/CASA) yang terangkat 10,2 persen menjadi Rp 1.082 triliun atau menyumbang 84,3 persen dari total DPK.

Kondisi ini turut menjaga ongkos dana (cost of fund) tetap efisien.

BCA juga merekam kenaikan pada sektor pembiayaan berkelanjutan.

Kredit hijau merangkak 19 persen menjadi Rp 123 triliun, dipicu oleh alokasi ke sektor energi baru terbarukan yang melonjak 82 persen menjadi Rp 7,7 triliun.

Sementara itu, kucuran kredit kendaraan bermotor listrik naik 25 persen menjadi Rp 4 triliun.

Hingga medio Juni 2026, perolehan laba bersih BCA beserta anak usahanya menyentuh Rp 29,5 triliun.

Perseroan turut memelihara target pertumbuhan pinjaman pada kisaran 8-10 persen sampai akhir tahun seiring masih tingginya permintaan pembiayaan dari beragam lini bisnis.

Di tengah melajunya kucuran pinjaman, BCA mulai menyesuaikan suku bunga kredit pasca Bank Indonesia (BI) menaikkan acuan BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026.

Namun demikian, penyesuaian diterapkan secara perlahan dan hanya dialokasikan kepada debitur tertentu sesuai profil risiko dan kondisi usahanya.

Dari sumbernya mengutarakan bahwa kenaikan BI Rate tidak secara otomatis dibebankan pada seluruh bunga kredit.

Menurutnya, penyesuaian baru dilaksanakan sewaktu ikatan kredit mencapai tenggat jatuh tempo dan diputuskan secara selektif.

"Kami tidak menaikkan di semua nasabah. Kami hanya menaikkan kepada nasabah tertentu yang kami nilai dari sisi bisnis masih mampu sehingga bunganya dinaikkan. Untuk nasabah yang suku bunganya sudah tinggi, kami tidak menaikkan," ujar dari sumbernya.

Dari sumbernya mengutarakan bahwa sampai semester I 2026, transmisi kenaikan suku bunga acuan terhadap bunga pinjaman masih sangat terbatas.

Meskipun BI sudah mengerek BI Rate sebesar 100 basis poin, penyesuaian tarif bunga kredit BCA baru berada pada kisaran empat basis poin.

Langkah kebijakan tersebut diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

BCA tetap konsisten mempertahankan proyeksi pertumbuhan pinjaman pada kisaran 8-10 persen hingga penutupan 2026.

Perseroan menganggap permintaan kredit masih akan disokong sejumlah sektor, seperti infrastruktur, teknologi, perkebunan, pertanian, logistik, dan jasa keuangan.

Sektor-sektor itu juga diprediksi akan menjadi tumpuan penyaluran kredit pada semester II tahun ini.

Sebelumnya, Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di posisi 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 21-22 Juli 2026.

Besaran suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan di angka 4,75 persen dan Lending Facility pada level 6,50 persen.

Keputusan ini ditujukan guna mengawal stabilitas nilai tukar rupiah di tengah bergejolaknya ketidakpastian global sekaligus menjaga laju inflasi tetap berada pada rentang sasaran 2,5±1 persen.

Pada saat bersamaan, BI memilih menguatkan bauran kebijakan melalui peningkatan insentif bagi pemodal asing dibandingkan kembali mengerek suku bunga.

Dari sumbernya saat itu menguraikan bahwa langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam menarik arus investasi portofolio, memelihara stabilitas rupiah, dan memperdalam Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA) tanpa memicu kenaikan suku bunga domestik.

Kebijakan ini melanjutkan rangkaian langkah pengetatan moneter BI sepanjang tahun 2026.

Seusai menahan BI Rate pada posisi 4,75 persen sepanjang Januari sampai April, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei menjadi 5,25 persen.

Selanjutnya, BI kembali mendongkrak BI Rate masing-masing sebesar 25 basis poin melalui RDG Mingguan pada 9 Juni menjadi 5,50 persen dan RDG Juni menjadi 5,75 persen.

Terkini