Kinerja Keuangan Manulife Indonesia Capai Rp66,17 Triliun di 2025

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:53:42 WIB
Ilustrasi Manulife Indonesia, Sumber: balipolitika.

JAKARTA - Perusahaan asuransi jiwa bersama unit syariahnya mencatatkan kinerja bisnis yang solid sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ini didukung oleh permodalan yang kuat, manajemen risiko disiplin, serta konsistensi dalam menyediakan perlindungan bagi nasabah.

Pada akhir Desember 2025, total aset perusahaan mencapai Rp 66,17 triliun. Tingkat kecukupan modal atau risk based capital perusahaan terjaga di level 650 persen. Capaian ini melampaui standar minimal regulator sebesar 120 persen.

Perusahaan mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 1,28 triliun. Laba ini disokong oleh pendapatan jasa asuransi senilai Rp 3,97 triliun dan hasil investasi, termasuk produk PAYDI, sebesar Rp 5,09 triliun.

Sepanjang 2025, hasil jasa asuransi neto mencapai Rp 299,77 miliar. Secara akumulatif, hasil neto asuransi dan investasi tercatat sebesar Rp 1,28 triliun, sementara laba komprehensif mencapai Rp 859,4 miliar.

Perusahaan merealisasikan beban jasa asuransi sebesar Rp 3,68 triliun. Dana ini digunakan untuk klaim proteksi jiwa, kesehatan, dan operasional layanan asuransi. Pimpinan perusahaan menyatakan capaian ini merupakan tonggak berharga bagi korporasi.

“Bertepatan dengan 40 tahun kehadiran kami di Indonesia pada 2025, kami membukukan kinerja keuangan yang solid, didukung pertumbuhan bisnis, pengelolaan investasi yang disiplin, dan tingkat solvabilitas yang kuat,” ujar pimpinan perusahaan.

Pimpinan tersebut menambahkan, perolehan ini memperkuat ketahanan operasional, loyalitas nasabah, serta visi untuk mendampingi perlindungan keluarga di tanah air.

Di sisi lain, divisi manajemen aset grup semakin dominan dalam pengelolaan dana. Memasuki usia tiga dekade, perusahaan sukses mempertahankan posisi nomor satu di industri sejak 2020 dengan pangsa pasar 11,94 persen dari total 90 korporasi.

Jumlah aset kelolaan atau asset under management mencapai Rp 124,3 triliun. Reksa dana menyumbang Rp 63 triliun, menjadikannya portofolio terbesar di industri dengan pangsa pasar 9,33 persen.

Pimpinan manajemen aset menyatakan komitmen penuh kepada nasabah.

“Kami berkomitmen untuk senantiasa mendampingi setiap nasabah, mengoptimalkan risk-return portofolio yang dipercayakan kepada kami di berbagai siklus pasar,” ujar pimpinan manajemen aset.

Pihaknya terus menjaga keseimbangan antara tata kelola risiko dengan kapabilitas mengumpulkan alpha yang konsisten, serta berinovasi memenuhi kebutuhan nasabah.

Lini bisnis syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan setelah beroperasi mandiri sejak Desember 2024.

Pendapatan usaha tercatat Rp 302,1 miliar, meningkat tajam dari Rp 66,5 miliar pada tahun 2024. Aset unit syariah mencapai Rp 1,55 triliun.

Rasio solvabilitas Dana Tabarru’ dan Dana Tanahud menyentuh 797 persen. Sementara solvabilitas Dana Perusahaan mencapai 5.433 persen. Angka ini berada di atas ambang batas regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Unit syariah mendistribusikan manfaat klaim sebesar Rp 83,9 miliar, melonjak 99 persen dibanding tahun sebelumnya.

Perusahaan juga mencatatkan surplus underwriting Dana Tabarru’ senilai Rp 766 juta.

Pimpinan unit syariah menyatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap proteksi syariah menunjukkan tingginya kepercayaan publik.

“Pada tahun pertama operasional kami sebagai bisnis syariah yang independen, kami telah melihat respons positif dari pasar sebagaimana tercermin dalam pertumbuhan pesat kami,” ujar pimpinan unit syariah.

Pihaknya akan terus menambah produk proteksi yang adaptif dan melakukan aksi sosial, termasuk pengadaan air bersih untuk meningkatkan taraf hidup komunitas.

“Program tersebut sejalan dengan nilai berbagi, bertumbuh, dan berdampak yang menjadi landasan operasional kami,” ungkapnya.

Terkini