Sektor Ekspor Diprediksi Pacu Pertumbuhan Kredit di Paruh Kedua 2026

Kamis, 04 Juni 2026 | 14:33:21 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Kredit Sektor Ekspor, Sumber: (NET).

JAKARTA - Akselerasi penyaluran dana pinjaman perbankan pada semester kedua 2026 diproyeksikan akan melaju lebih kencang, khususnya bagi sektor manufaktur yang berkecimpung dalam perdagangan internasional.

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan implikasi yang beragam bagi setiap lini bisnis.

Di tengah kondisi depresiasi mata uang domestik, permintaan pembiayaan untuk industri berorientasi ekspor dinilai memiliki peluang besar untuk meningkat.

Hal ini terjadi karena daya tarik produk dalam negeri di pasar global menguat akibat harga komoditas yang menjadi lebih kompetitif.

"Begitu mata uang kami terdepresiasi, ekspor akan lebih banyak permintaannya karena harganya otomatis jadi lebih murah bagi di sana. Tapi kebalikannya kalau kami impor, harga yang kami beli jadi lebih mahal," jelas narasumber saat ditemui.

Oleh karena itu, dinamika pertumbuhan kredit perbankan pada paruh kedua tahun ini akan sangat bergantung pada sejauh mana fluktuasi rupiah memengaruhi masing-masing sektor usaha.

Sementara itu, peningkatan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026 tidak akan langsung memaksa perbankan menaikkan bunga kredit dalam waktu dekat.

Manajemen perbankan dipastikan akan mempertimbangkan faktor komersial secara mendalam sebelum melakukan penyesuaian margin bunga, dengan memantau likuiditas dan biaya modal.

"Akan selalu ada jeda waktu untuk perbankan menyesuaikan. Karena bank itu bisnis, dia akan mengkalkulasi tingkat suku bunga bisa dinaikkan," tambahnya.

Terkini