JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah diperkirakan akan melemah dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini. Hal ini terjadi menyusul kemerosotan mata uang garuda di pasar luar negeri pada sesi penutupan sebelumnya.
Berdasarkan data dari pasar keuangan, nilai mata uang rupiah mengalami penurunan sebesar 0,46 persen ke posisi Rp17.865 per dolar Amerika Serikat. Bahkan, pada awal pembukaan sesi, nilainya sempat menyentuh angka Rp17.902.
Pelemahan yang terjadi di pasar luar negeri tersebut memperkuat indikasi bahwa mata uang domestik akan terus tertekan hingga mendekati angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Pemicu utama dari besarnya permintaan terhadap aset aman ini adalah peningkatan konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, yang pada akhirnya mendorong penguatan dolar Amerika Serikat.
Kondisi semakin memanas setelah adanya tindakan militer dari Amerika Serikat terhadap fasilitas di wilayah Iran.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya aksi balasan yang jauh lebih masif dari pihak Teheran.
"Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah," katanya pada Jumat, 29 Mei 2026.
Kekhawatiran mendalam atas situasi keamanan di Selat Hormuz juga memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Harga minyak mentah jenis WTI dilaporkan merangkak naik mendekati angka US$96 per barel akibat ancaman tersumbatnya jalur distribusi energi.
Melambungnya harga minyak dunia tersebut secara otomatis meningkatkan beban inflasi global serta memperbesar volume impor energi untuk kebutuhan dalam negeri.
Dampak lanjutan dari situasi tersebut adalah terjadinya lonjakan permintaan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat di pasar domestik.
Selain tekanan dari luar, beberapa faktor penekan dari dalam negeri juga dinilai ikut memperparah kondisi nilai tukar mata uang domestik, meliputi:
Tingginya angka impor komoditas minyak
Pembayaran dividen ke luar negeri
Peralihan dana masyarakat ke aset berbentuk dolar Amerika Serikat
Besarnya nilai utang jatuh tempo milik pemerintah serta sektor korporasi
Aliran modal keluar dari pasar domestik juga dipicu oleh kekhawatiran para investor asing mengenai tingkat efektivitas tata kelola pada beberapa program kerja pemerintah.
"Arus modal asing keluar cukup deras pada masa libur panjang ini. Sementara Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi secara terbatas," ujarnya.
Arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve turut memberikan dampak negatif bagi pergerakan rupiah.
Pernyataan dari jajaran petinggi bank sentral yang kembali menyoroti ancaman inflasi memicu proyeksi bahwa tingkat suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam durasi yang lebih lama.
Fenomena ini berhasil memperkuat posisi indeks dolar Amerika Serikat sekaligus mempersempit ruang gerak bagi penguatan mata uang di berbagai negara berkembang.
"Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS," katanya.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai masih mempunyai ruang yang cukup lebar untuk kembali menguat jika bauran kebijakan moneter dan fiskal dapat berjalan secara lebih optimal.
Potensi pemulihan nilai tukar mata uang domestik diperkirakan mampu mencapai kisaran angka:
Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar Amerika Serikat
Pemulihan tersebut dapat tercapai apabila sinergi antara sektor fiskal dan moneter berjalan solid.
"Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya," katanya pada Kamis, 28 Mei 2026.
Langkah stabilisasi mata uang rupiah ditegaskan tidak dapat hanya bertumpu pada peran Bank Indonesia saja, melainkan membutuhkan keseimbangan bauran kebijakan yang nyata dengan sektor fiskal.
Saat ini para pelaku pasar sedang mencermati secara ketat konsistensi dari arah kebijakan yang ditempuh pemerintah bersama bank sentral.
Oleh karena itu, koordinasi kebijakan yang erat mutlak diperlukan dalam menghadapi dinamika serta tekanan ekonomi global yang sedang berlangsung sangat besar.