Rupiah Diprediksi Sangat Melemah dan Dekati Level Rp18.000 Per Dolar AS

Jumat, 29 Mei 2026 | 14:18:07 WIB
Ilustrasi Rupiah, Sumber: sahabat.pegadaian.

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan akan menghadapi tekanan yang amat kuat hingga bergerak mendekati batas psikologis baru di level Rp18.000 per dolar AS pada sesi perdagangan Jumat 29 Mei 2026. Perkiraan tersebut muncul setelah mata uang nasional menunjukkan tren penurunan yang sangat mencolok pada penutupan pasar sebelumnya.

Berdasarkan data aktivitas perdagangan di pasar offshore pada Kamis 28 Mei 2026, nilai tukar rupiah terpantau mengalami depresiasi sebesar 0,46 persen.

Situasi tersebut menyeret mata uang dalam negeri ke posisi Rp17.865 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah ke titik terendah di angka Rp17.902 saat sesi pembukaan.

Seorang pengamat mata uang senior memberikan analisisnya mengenai kondisi menantang yang sedang dihadapi oleh nilai tukar rupiah saat ini.

Menurut penjelasannya, kemerosotan ini disebabkan oleh kombinasi tekanan hebat yang datang dari faktor eksternal global sekaligus kondisi internal dari dalam negeri.

Pengamat tersebut memastikan bahwa kedua faktor ini bekerja secara bersamaan dalam mendorong tren pelemahan mata uang Indonesia terhadap dolar AS.

"Faktor luar negeri dan dalam negeri saat ini sama-sama sangat mendukung posisi rupiah untuk melemah," ungkapnya pada Jumat 29 Mei 2026.

Kekhawatiran mengenai kelanjutan tren negatif ini masih terus membayangi pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.

Ia memberikan peringatan bahwa ada risiko yang cukup besar bagi pergerakan rupiah untuk kembali merosot pada perdagangan hari ini hingga menyentuh level Rp18.000.

Ia memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar akan tetap bergerak fluktuatif ketika pasar resmi dibuka pada hari Jumat dan mendorong rupiah ke arah batas psikologis tersebut.

"Sangat mungkin ketika pasar mulai beroperasi pada Jumat ini, pergerakan rupiah akan semakin mendekat ke level Rp18.000 per dolar AS," tuturnya menambahkan.

Terdapat beberapa faktor pendorong utama yang menyebabkan para pelaku investasi cenderung menghindari aset berisiko tinggi dan lebih memilih untuk mengalihkan dana mereka ke mata uang dolar AS:

Meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengancam stabilitas keamanan global.

Konflik yang terus berkepanjangan di Eropa Timur, khususnya antara Rusia dan Ukraina, yang terus menimbulkan ketidakpastian ekonomi dunia.

Potensi hambatan pada jalur distribusi energi global yang melewati Selat Hormuz sebagai dampak dari konflik yang kian memanas.

Lonjakan harga minyak mentah dunia sebagai konsekuensi dari terganggunya distribusi energi di wilayah-wilayah yang bertikai.

Pengamat tersebut menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah yang semakin memanas memaksa para pelaku pasar untuk mencari perlindungan pada aset yang aman.

Pilihan utama para investor saat ini tertuju pada mata uang dolar Amerika Serikat yang dinilai memiliki stabilitas lebih baik di tengah kondisi konflik.

Selain itu, ancaman keamanan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian serius karena merupakan jalur sangat vital bagi distribusi minyak dunia.

Jika kawasan tersebut terganggu, harga komoditas minyak dipastikan akan melonjak kembali dan memberikan beban tambahan bagi stabilitas ekonomi negara berkembang.

Di sisi lain, tidak semua pihak memandang masa depan mata uang rupiah secara pesimistis di tengah gempuran sentimen global yang masif tersebut.

Kepala Ekonom sebuah sekuritas di Indonesia menyampaikan pandangan yang lebih optimistis terkait potensi penguatan kembali mata uang rupiah.

Kepala Ekonom tersebut menilai bahwa nilai tukar rupiah sebenarnya memiliki ruang yang cukup lebar untuk kembali menguat secara signifikan di masa mendatang.

Kendati demikian, momentum pemulihan tersebut sangat bergantung pada efektivitas kombinasi kebijakan yang diterapkan oleh pihak otoritas.

Berikut merupakan estimasi target nilai tukar rupiah apabila indikator fundamental serta kebijakan internal dapat terpenuhi dengan baik:

Koordinasi Fiskal & Moneter Solid: Target Nilai Tukar Rp16.800 - Rp17.000 per USD

Kapasitas Riil Ekonomi Saat Ini: Target Nilai Tukar Di Bawah Rp17.500 per USD

Tekanan Global Tanpa Sinkronisasi: Target Nilai Tukar Di Atas Rp17.900 per USD

Melalui data tersebut, terlihat jelas bahwa pemulihan posisi rupiah ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 sangat mungkin dicapai apabila pemerintah dan Bank Indonesia saling bersinergi.

Kepala Ekonom tersebut menegaskan bahwa posisi nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya telah melampaui kapasitas riil dari perekonomian Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan konsep pembagian beban yang seimbang antara otoritas fiskal dan moneter.

Menurutnya, tanggung jawab untuk menjaga stabilitas nilai tukar tidak boleh dibebankan secara sepihak kepada Bank Indonesia (BI) saja.

Berdasarkan penilaiannya, para pelaku pasar modal saat ini sedang mencermati seberapa konsisten arah langkah yang diambil oleh pemerintah bersama BI dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Sinergi yang kuat dinilai sebagai instrumen vital untuk meredam dampak buruk dari ketidakpastian pasar global yang masif.

Ia pun mengingatkan bahwa pengetatan regulasi yang dilakukan oleh BI tidak akan berjalan optimal jika kebijakan fiskal serta komunikasi publik yang dibangun pemerintah belum berjalan selaras.

"Jika kedua aspek ini tidak sinkron, maka tekanan terhadap mata uang rupiah akan tetap terasa berat meskipun BI sudah mengambil langkah tegas," pungkasnya.

Terkini