JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai sedang berada dalam fase overshooting. Kondisi pelemahan yang terjadi saat ini dianggap sudah melampaui batas justifikasi fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia.
Mata uang rupiah kini terpaksa menjadi peredam kejut utama dari berbagai tekanan ekonomi global.
Tekanan yang datang bertubi-tubi tersebut seharusnya tersebar secara merata ke berbagai macam sektor domestik.
Keadaan rupiah yang harus menanggung beban sendirian ini terjadi karena adanya langkah kuat untuk menahan penyesuaian di sektor domestik demi menjaga stabilitas sosial. Penahanan ini mencakup harga energi serta tingkat inflasi.
Kebijakan proteksi tersebut mengakibatkan hantaman ekonomi global yang terus berlanjut akhirnya bergeser dan menumpuk sepenuhnya pada fluktuasi nilai tukar.
Berdasarkan teori Dornbusch Overshooting, saat sektor harga domestik kaku sementara pasar keuangan bergerak kilat, nilai tukar akan merespons secara ekstrem.
Pasar keuangan global pada masa kini tidak sekadar mengamati data sekilas pada hari ini saja. “Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas,” ujar Fakhrul.
Sentimen luar negeri yang memicu tekanan besar ini didominasi oleh perpaduan keperkasaan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta meluasnya fragmentasi perdagangan dunia.
Dari sisi dalam negeri, para pelaku pasar melihat adanya ketidakselarasan antara kebijakan fiskal dan moneter.
Hal tersebut pada akhirnya membuat beban kerja Bank Indonesia menjadi jauh lebih berat.
Langkah Bank Indonesia dinilai sudah bergerak maju dengan pendekatan pre-emptive dan ahead the curve.
Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dianggap sebagai langkah krusial untuk mengembalikan kredibilitas otoritas moneter serta menjaga jangkar pasar keuangan.
Meski begitu, proses stabilisasi mata uang tidak dapat ditumpukan kepada Bank Indonesia sendirian.
Pemerintah tetap memerlukan bauran kebijakan yang seimbang antara sektor moneter serta fiskal.
“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” tegas Fakhrul. Jika penyelarasan ini timpang, efek buruknya akan langsung menjalar ke sektor riil nasional yang kini mulai masuk tahap mengkhawatirkan.
Walaupun penuh tantangan yang berat, ada rasa optimistis bahwa rupiah masih memiliki ruang penguatan yang besar di masa mendatang.
Angka nilai tukar saat ini dinilai terlalu lemah jika diukur dengan kapasitas dan daya tahan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya.
Rupiah diproyeksikan punya potensi untuk kembali menguat ke level Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Syaratnya, pemerintah harus segera memperlihatkan roadmap stabilisasi yang terang serta pembagian beban kebijakan yang lebih realistis antara sektor fiskal dan moneter.
Pelajaran paling berharga dari dinamika ini yaitu stabilitas ekonomi tidak boleh hanya dipikul oleh satu lembaga saja, melainkan butuh struktur ekonomi yang lebih anti-fragile lewat koordinasi lintas sektor yang lebih solid.
Pada kesempatan lain, pengamat pasar uang dan komoditas memproyeksikan nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan yang amat kuat.
Rupiah berpotensi mendekati level psikologis baru yaitu Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5/2026).
Kondisi berat tersebut terus dipicu oleh perpaduan sentimen eksternal dan internal yang dinilai kian hari kian memberatkan mata uang Garuda.
Berdasarkan hasil pantauan pasar yang bergerak dinamis, rupiah berada di posisi Rp17.855,5 per dolar AS atau melemah sekitar 54,5 poin.
Bahkan dalam pergerakan harian, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.870 per dolar AS.
Mengantisipasi sentimen penutupan pekan, Ibrahim Assuaibi menyatakan kepada wartawan bahwa ada kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000 per dolar AS.