Fluktuasi Rupiah Makin Liar Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia

Kamis, 28 Mei 2026 | 12:18:12 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS. Sumber: (NET).

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terpantau mengalami fluktuasi yang cukup tajam jika dibandingkan dengan pergerakan mata uang dari negara-negara lain di kawasan Asia.

Sebagai perbandingan, mata uang rupee India juga mengalami pelemahan yang hampir setara dengan rupiah, di mana penurunan terdalamnya tercatat menyentuh angka 44,13 persen dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Nilai mata uang rupee India tersebut terpantau bergerak dari angka INR 66.153 per dolar AS pada penutupan tahun 2015 menjadi INR 95.347 per dolar AS pada hari Selasa, 26 Mei 2026.

Meski demikian, pergerakan fluktuasi pada mata uang rupee India tampak jauh lebih terkendali karena disokong oleh fondasi perekonomian yang kokoh.

Perekonomian India sendiri diproyeksikan mampu tumbuh sebesar 7,1 persen pada kuartal I 2026 serta sebesar 6,4 persen pada kuartal II 2026, di tengah situasi kenaikan harga minyak global.

Selain disokong oleh tingkat konsumsi domestik sebagai penggerak utama roda ekonomi, India juga memiliki cadangan devisa dalam jumlah besar yang mencapai angka US$728,5 atau setara dengan kebutuhan 11,3 bulan impor.

Kondisi tersebut memberikan ruang intervensi yang jauh lebih luas bagi otoritas India jika dibandingkan dengan Indonesia.

Negara tersebut juga menerapkan serangkaian kebijakan administratif guna meredam tingginya permintaan terhadap mata uang dolar AS.

Langkah administratif tersebut dilakukan di antaranya dengan menaikkan tarif bea masuk untuk komoditas emas serta perak, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama pemicu tingginya permintaan dolar AS di negara India.

Struktur perekonomian yang dimiliki oleh tiap-tiap negara memang menjadi faktor yang sangat menentukan karakteristik dan perilaku dari mata uang masing-masing.

Hal ini dapat terlihat pada mata uang ringgit Malaysia serta dolar Singapura yang cenderung bergerak lebih stabil.

Tingkat stabilitas mata uang ringgit Malaysia terbantu oleh lonjakan harga komoditas global, mengingat negara tersebut memiliki volume ekspor minyak, gas, serta CPO yang besar untuk menyokong neraca perdagangan.

Sementara itu, stabilitas negara Singapura ditopang oleh kerangka kebijakan nilai tukar yang dinilai sangat kredibel, pasar keuangan yang dalam, serta statusnya sebagai salah satu pusat keuangan di tingkat dunia.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Thailand tercatat jauh lebih sensitif terhadap perkembangan sektor energi, namun pasokan devisanya terbantu oleh kinerja sektor pariwisata yang sangat besar.

Negara Filipina juga terhitung cukup rentan akibat ketergantungan pada impor energi serta tingginya kebutuhan valuta asing, akan tetapi pergerakannya disokong oleh aliran remitansi dari para tenaga kerja di luar negeri.

Sedangkan negara Vietnam memiliki bantalan ekonomi berupa kinerja ekspor sektor manufaktur serta aliran investasi asing langsung, dengan sistem pengelolaan nilai tukar yang terpantau jauh lebih terkendali.

Posisi Indonesia sendiri berada di bagian tengah, yakni memiliki pasar domestik yang luas serta ditopang komoditas, namun di sisi lain juga dibayangi oleh tingginya angka impor energi, kebutuhan dolar musiman yang besar, serta kondisi pasar keuangan yang sangat sensitif terhadap arus portofolio.

Untuk konteks di dalam negeri, permasalahan utama yang dihadapi bukan semata-mata karena faktor fundamental ekonomi domestik Indonesia yang melemah.

Perekonomian nasional secara umum terpantau masih tumbuh, tingkat inflasi relatif berada dalam kondisi terkendali, dan posisi cadangan devisa negara juga dinilai masih cukup memadai.

Akan tetapi, para pelaku pasar menilai bahwa ruang aman atau bantalan yang dimiliki oleh Indonesia saat ini menjadi semakin menyempit.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada saat ini berada di angka US$146,2 miliar atau setara dengan 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, di mana nominal ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan Maret.

Penyusutan pada jumlah cadangan devisa ini terjadi sebagai akibat dari adanya pemenuhan kewajiban pembayaran utang luar negeri serta adanya langkah-langkah untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Ini memberi sinyal bahwa BI masih punya amunisi, tetapi pasar juga melihat bahwa tekanan rupiah membutuhkan biaya. Karena itu, rupiah bisa tetap volatil meskipun fundamental tidak runtuh, sebab pasar sedang menguji konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan eksternal secara bersamaan,"

Agar nilai tukar dari mata uang rupiah dapat menjadi lebih terjaga dan tidak bergerak terlalu volatil, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh oleh pembuat kebijakan.

Pertama, pihak bank sentral tidak boleh hanya bertumpu pada kebijakan kenaikan tingkat suku bunga ataupun langkah intervensi di pasar valas semata.

Langkah intervensi memang tetap perlu dijalankan untuk meredam gejolak pasar yang sedang terjadi, namun hal tersebut bukan ditujukan untuk mempertahankan angka atau level tertentu secara kaku.

Kedua, pemerintah wajib memperbaiki sumber pasokan devisa negara melalui beberapa poin berikut:

Penguatan devisa hasil ekspor

Mempercepat ekspor produk bernilai tambah tinggi

Mengelola angka impor energi

Memperluas transaksi menggunakan mata uang lokal dengan mitra dagang di kawasan ASEAN

Ketiga, memperbesar volume penggunaan mata uang lokal dalam berbagai transaksi antarnegara di kawasan ASEAN.

Langkah ini dinilai dapat meminimalisasi ketergantungan terhadap penggunaan mata uang keras, sekaligus membantu menekan dampak negatif dari volatilitas mata uang asing terhadap pergerakan harga barang-barang impor.

"Ini relevan karena sebagian tekanan rupiah berasal dari kebutuhan dolar yang berulang, bukan hanya dari sentimen pasar,"

Keempat, mengurangi alasan bagi pelaku pasar untuk memberikan premi risiko dalam tingkat yang lebih tinggi kepada negara Indonesia.

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan terus menjaga tingkat kredibilitas kebijakan serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, alokasi subsidi energi harus diarahkan agar menjadi lebih tepat sasaran, komunikasi kebijakan wajib dilakukan secara konsisten, serta kebijakan yang berkaitan dengan ekspor komoditas ataupun devisa tidak boleh memicu kesan yang mendadak atau dinilai terlalu intervensionis.

Terkini