Prabowo Targetkan Ekonomi Tumbuh hingga 6,5 Persen pada RAPBN 2027

Kamis, 21 Mei 2026 | 16:28:36 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto.

JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memaparkan sejumlah target krusial dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027. Agenda ini disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI.

Pemerintah menetapkan sasaran pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,8% hingga 6,5% pada 2027. Target tersebut menjadi pijakan awal demi merealisasikan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029.

Melalui pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa langkah ekonomi dan kebijakan fiskal akan difokuskan demi memelihara stabilitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara konkret.

“Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5% di tahun 2027 menuju pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029,” ujar Prabowo.

Melihat dari aspek fiskal, pemerintah mematok target pendapatan negara dalam APBN 2027 pada angka 11,82% hingga 12,40% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, porsi belanja negara diproyeksikan pada rentang 13,62% sampai 14,80% PDB demi mendanai berbagai program prioritas nasional serta agenda strategis lainnya.

Untuk menjaga kesehatan ruang fiskal, pemerintah mengarahkan defisit APBN 2027 agar tetap terkendali pada angka 1,80% hingga maksimal 2,40% PDB.

Presiden juga menyatakan komitmen kuat dari jajaran pemerintah untuk memangkas persentase defisit ini secara berkala.

“Defisit APBN akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40% PDB. Dan kami akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini,” katanya.

Terkait sektor moneter dan pasar keuangan, pemerintah memperkirakan tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,5% sampai 7,3%.

Di sisi lain, nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” ujar Presiden.

Pemerintah turut membidik tingkat inflasi agar tetap berada di bawah kendali pada kisaran 1,5% sampai 3,5%. Pada bidang energi, harga minyak mentah Indonesia diperkirakan bertengger di level 70 hingga 95 dolar Amerika Serikat per barel.

Untuk target lifting minyak bumi dipatok berada pada angka 602 hingga 615 ribu barel per hari, sedangkan target lifting gas alam diharapkan menyentuh 934 hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.

Tidak sebatas memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga memfokuskan pembenahan pada aspek indikator kesejahteraan masyarakat luas.

Persentase kemiskinan diharapkan bisa ditekan ke angka 6,0% hingga 6,5%, yang mana sasaran ini lebih rendah dibandingkan target sebelumnya di rentang 6,5% sampai 7,5%.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka ditargetkan turun ke level 4,30% hingga 4,87% dari sasaran awal yang sebesar 4,44% sampai 4,96%.

Pemerintah juga mengharapkan angka rasio Gini bisa mencatat perbaikan ke posisi 0,362 hingga 0,367.

“Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kami perjuangkan untuk terus menyempit,” tegas Prabowo.

Mengenai aspek pembangunan kualitas sumber daya manusia, indeks modal manusia diproyeksikan meningkat ke level 0,575 dari angka sebelumnya 0,570. Pemerintah juga mengincar kenaikan indeks kesejahteraan petani menjadi 0,8038 dari posisi sebelumnya 0,7731.

Presiden pun mengangkat pencapaian Nilai Tukar Petani (NTP) yang dilaporkan telah berada di posisi tertinggi sepanjang sejarah pada level 126.

“Nilai tukar petani atau NTP yang sekarang sudah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah di angka 126, harus kami perjuangkan untuk bisa kami tingkatkan lagi,” ujarnya.

Selain hal tersebut, pemerintah membidik kenaikan porsi lapangan pekerjaan sektor formal menjadi 40,81% pada tahun 2027, meningkat dari angka 35,00% pada tahun 2026.

Terkini