Proyeksi Rupiah Hari Ini Bergerak Fluktuatif dan Cenderung Melemah

Rabu, 20 Mei 2026 | 15:45:06 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: (NET).

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang domestik diperkirakan berada dalam kisaran Rp17.600 sampai Rp17.750 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar terkini, mata uang rupiah ditutup terkoreksi sebesar 22 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Penurunan mata uang Garuda ini sejalan dengan melemahnya mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Mata uang yen Jepang tercatat melemah 22 persen, yuan China turun 05 persen, dolar Singapura merosot 22 persen, dan won Korea melemah 24 persen.

Selain itu, dolar Hong Kong turun 03 persen, dolar Taiwan melemah 33 persen, rupee India berkurang 10 persen, ringgit Malaysia merosot 03 persen, peso Filipina melemah 20 persen, serta baht Thailand turun 31 persen.

Situasi geopolitik global saat ini dilaporkan mulai mereda. Meski demikian, tekanan dari dalam negeri dinilai masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah.

Pasar saham domestik juga terpantau masih tertekan oleh aksi jual investor. Faktor ini pada akhirnya membatasi ruang bagi mata uang Garuda untuk mengalami penguatan.

Saat ini fokus para pelaku pasar sedang tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan dirilis besok.

Bank sentral diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin guna menjaga stabilitas rupiah dan meredam gejolak di pasar keuangan.

Di samping keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menanti pernyataan resmi dari Bank Indonesia. Pernyataan itu dinilai mampu mengembalikan kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik.

Langkah yang lebih agresif atau hawkish dari Bank Indonesia dipandang bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Sementara itu, pihak pemerintah mengabarkan tekanan jual yang terjadi di pasar Surat Berharga Negara atau SBN saat ini masih minim dan dalam batas aman.

Pemerintah sebelumnya telah menyiapkan dana minimal Rp2 triliun setiap hari untuk melakukan aksi pembelian kembali atau buyback SBN di pasar sekunder.

Namun, pada realisasinya, jumlah penyerapan dana tersebut ternyata berada jauh di bawah target yang telah ditentukan.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, [tetapi] hanya dapat Rp600 miIiar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," ujarnya.

Langkah intervensi di pasar obligasi tersebut dilakukan karena saat ini masih terjadi aliran modal asing keluar atau capital outflow dari pasar SBN.

Mengacu pada data kementerian, sejak awal tahun hingga 24 April 2026, aliran modal asing yang keluar dari pasar SBN telah mencapai Rp20 triliun.

Terkini