Rupiah Tembus Angka 17.500 per Dolar AS Akibat Tekanan Ekonomi Global

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:58:30 WIB
Ilustrasi Uang Rupiah Melemah, Sumbet: (NET).

JAKARTA - Mata uang rupiah terhadap dolar AS terus mendapatkan tekanan besar hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada perdagangan pekan ini.

Berdasarkan data, mata uang garuda telah melewati angka psikologis Rp17.500 per dolar AS pada pasar spot dan JISDOR Bank Indonesia.

Situasi ini disebabkan oleh faktor eksternal yang dominan, khususnya konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut sehingga memicu kekhawatiran pasar atas kenaikan inflasi global.

Kondisi ini diprediksi menyebabkan suku bunga tinggi di Amerika Serikat bertahan dalam jangka waktu lebih lama.

Dari faktor internal, para ekonom memperhatikan adanya keraguan pasar terkait kondisi fiskal, likuiditas, dan arah kebijakan pemerintah yang dinilai masih belum pasti.

Pemerintah saat ini tengah berencana menjalankan dana stabilisasi obligasi demi menekan gejolak yang terjadi.

Penurunan nilai ini terlihat jelas pada harga jual rupiah fisik di berbagai bank besar yang sudah mencapai kisaran Rp17.600-an per dolar AS.

Pantauan pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, memperlihatkan tren penurunan yang sangat tajam di bank-bank utama.

Walaupun kurs di perbankan mencatatkan rekor pelemahan, JISDOR Bank Indonesia justru menunjukkan penguatan tipis pada posisi Rp17.496 di penutupan perdagangan Rabu kemarin.

Pergerakan tersebut muncul setelah rupiah terus mengalami penurunan dalam satu pekan terakhir.

Data mencatat bahwa pada 7 Mei 2026, posisi rupiah masih ada di angka Rp17.362 per dolar AS sebelum akhirnya terus tertekan.

Pada 8 Mei, nilai tukar melandai ke Rp17.375 dan terus merosot hingga melampaui angka Rp17.400 pada awal minggu ini.

Titik terendah terjadi pada Selasa, 12 Mei 2026, ketika nilai tukar jatuh ke angka Rp17.514 per dolar AS.

Pergerakan pasar spot yang dipantau Bloomberg juga memperlihatkan pola yang sama dengan posisi penutupan di level Rp17.461 pada Rabu kemarin.

Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia sudah menyiapkan tujuh strategi stabilisasi untuk memperkuat kembali nilai mata uang nasional.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyoroti efektivitas dana stabilisasi obligasi tersebut dalam menahan laju pelemahan rupiah.

Terkini