MEDIAKEUANGAN.ID — Dalam rekaman tersebut, Ben-Gvir terlihat memasuki bagian penjara yang menampung tahanan perempuan dan berdebat dengan mereka terkait keluhan soal perlakuan. Seorang tahanan menyampaikan protesnya: "Ini hari ketiga kami tanpa mandi. Kami tidak mendapat perawatan medis, dan pakaian kami tidak bersih."
Menanggapi keluhan itu, Ben-Gvir menjawab, "Kondisi baik di penjara sudah berakhir. Ini situasi saat ini, dan saya bertanggung jawab langsung atas semuanya. Saya senang dengan kondisi ini."
Kebijakan Standar Minimal yang Diperketat
Dalam unggahan yang menyertai video tersebut, politikus sayap kanan itu menulis bahwa "rengekan" tahanan atas kondisi mereka tidak akan memengaruhinya. Ia berargumen bahwa tawanan Israel yang ditahan di Gaza juga tidak menikmati kondisi yang layak. "Saya akan terus memimpin kebijakan standar minimal dari yang minimal," tulisnya.
Sejak menjabat sebagai menteri keamanan nasional pada akhir 2022, Ben-Gvir memang gencar mendorong pemberlakuan kondisi yang lebih keras bagi tahanan Palestina. Kebijakan yang diambilnya mencakup pengurangan jatah makanan dan air, pembatasan kunjungan keluarga, pemangkasan waktu mandi, hingga penghapusan sejumlah hak istimewa di dalam blok tahanan. Ia juga mengawasi pemindahan ratusan tahanan Palestina antar fasilitas penjara.
Upaya perbaikan kondisi kerap ditolaknya. Pada 2025, Ben-Gvir secara terbuka menentang putusan pengadilan Israel yang mewajibkan otoritas penjara memastikan kecukupan makanan bagi tahanan Palestina. Ia bersikeras agar kondisi keras tetap dipertahankan.
Kecaman Kelompok Palestina
Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Gaza mengecam keras kunjungan Ben-Gvir tersebut. Menurut lembaga itu, perekaman terhadap tahanan perempuan merupakan bentuk intimidasi dan penghinaan. Kunjungan ke blok perempuan itu dinilainya bukan sebagai inspeksi, melainkan "tontonan politik dan hasutan publik terhadap tahanan perempuan" yang bertujuan mematahkan mental mereka di depan kamera.
Komisi tersebut juga menilai pernyataan Ben-Gvir menunjukkan bahwa kondisi di dalam penjara Israel merupakan bagian dari kebijakan sistematis yang berlandaskan "penghinaan, penyiksaan, kelaparan, dan perampasan".
Masyarakat Tahanan Palestina (Palestinian Prisoner's Society) turut mengecam rekaman itu. Kepada Al Jazeera, organisasi tersebut menyatakan publikasi video para tahanan perempuan merupakan "serangan terhadap martabat kemanusiaan mereka". Mereka menambahkan, ratusan kesaksian dari tahanan yang dibebaskan telah mendokumentasikan pelanggaran serius di dalam penjara dan fasilitas penahanan Israel.
Data Tahanan Palestina
Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Gaza mencatat sekitar 9.400 warga Palestina saat ini ditahan di penjara Israel. Jumlah itu mencakup 88 perempuan dan lebih dari 350 anak-anak.