Suntikan Dana Rp 4,8 Triliun dari Raksasa Jepang Masuk ke Ajaib, Pendanaan Terbesar Startup RI dalam 4 Tahun

Suntikan Dana Rp 4,8 Triliun dari Raksasa Jepang Masuk ke Ajaib, Pendanaan Terbesar Startup RI dalam 4 Tahun

MEDIAKEUANGAN.ID — Suntikan dana segar ini membuat total akumulasi pendanaan Ajaib sejak berdiri pada 2019 kini menembus angka US$500 juta atau setara Rp 8,9 triliun. SBI Holdings sendiri merupakan entitas yang tercatat di Bursa Tokyo dan menaungi perusahaan sekuritas terbesar di Jepang.

Kepercayaan dari investor kelas kakap ini tidak hanya ditujukan kepada Ajaib, tetapi juga menjadi cermin optimisme terhadap fundamental ekonomi nasional dan kualitas talenta lokal. Sebelumnya, Ajaib telah mendapat dukungan dari sejumlah nama besar global, seperti Horizons Ventures milik taipan Li Ka-shing, serta DST Global dan Ribbit Capital yang juga dikenal sebagai investor di balik platform Robinhood dan Coinbase.

Investasi Untuk Siapa?

Co-Founder dan CEO Ajaib, Anderson Sumarli, menegaskan bahwa dana sebesar itu pada akhirnya ditujukan untuk para nasabahnya, yang mayoritas adalah investor pemula. Banyak dari mereka berasal dari kota-kota lapis kedua dan ketiga di berbagai wilayah Indonesia, yang mulai melangkah di dunia investasi.

“Jadi kalau ditanya investasi US$270 juta ini sebenarnya untuk siapa, jawabannya sederhana: untuk teman-teman yang setiap gajian menyisihkan sedikit demi sedikit untuk nabung saham dan kripto. Ini kepercayaan dunia kepada kalian, bukan cuma kepada kami,” ungkapnya.

Anderson masih mengingat betul awal mula perjalanan perusahaannya. “Nasabah pertama kami adalah mahasiswa yang beli saham satu lot demi satu lot. Sampai saat ini saya masih ingat betul rasanya — deg-degan melihat portofolio investasi naik-turun meski hanya beberapa ribu rupiah,” kenangnya.

Menjangkau Investor di Luar Kota Besar

Ajaib merancang akses investasi agar lebih inklusif. Melalui aplikasi, masyarakat bisa membuka rekening hanya dalam hitungan menit lewat telepon genggam, tanpa syarat setoran minimum. Dengan begitu, siapa pun dari latar belakang ekonomi berbeda bisa mulai memiliki aset dan turut menikmati pertumbuhan ekonomi.

Potensi pasar investasi Indonesia dinilai masih sangat besar. Chainalysis menempatkan Indonesia di peringkat tujuh besar dunia dalam adopsi aset digital dan tertinggi di Asia Tenggara. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan usia median sekitar 30 tahun, negeri ini memiliki basis masyarakat luas untuk melahirkan investor-investor baru.

Edukasi Kunci Perluasan Kepemilikan Aset

Perusahaan tidak hanya fokus pada pengembangan aplikasi. Ajaib aktif menjalankan program literasi keuangan bersama sekolah, kampus, dan komunitas, sejalan dengan agenda nasional peningkatan inklusi keuangan.

Menurut Anderson, perluasan akses investasi memiliki makna lebih besar dari sekadar pertumbuhan bisnis. Di tengah ekonomi nasional yang tumbuh sekitar lima persen per tahun, pasar modal dan aset digital menjadi sarana untuk mendistribusikan pertumbuhan tersebut kepada masyarakat luas.

“Komunitas saham dan kripto di Indonesia itu luar biasa, mungkin yang paling semangat belajar di dunia,” puji Anderson. Ia berpesan agar investor pemula tidak terjebak rasa takut tertinggal atau FOMO. “Pesan saya santai saja, cuan itu datang dari sabar, belajar, dan konsisten, bukan dari FOMO. Tugas kami memastikan begitu kalian siap mulai, semuanya aman, murah, dan gampang,” tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index