JAKARTA – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai paruh pertama tahun 2026 tetap kokoh di tengah volatilitas perekonomian dunia. Pendapatan negara mengalami kenaikan, sedangkan alokasi belanja difokuskan untuk membiayai program strategis serta mempertahankan stabilitas ekonomi.
Realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp1.459,5 triliun atau tumbuh sebesar 21,4% y-o-y, yang setara dengan 46,3% dari target. Penerimaan ini didukung oleh sektor perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp271,0 triliun, dan hibah senilai Rp0,7 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara terserap sebesar Rp1.656,0 triliun atau meningkat 17,8% y-o-y, yang mencakup 43,1% dari target anggaran. Penyerapan tersebut bersumber dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.298,6 triliun dan penyaluran transfer ke daerah sebesar Rp357,4 triliun.
Kondisi tersebut memicu terjadinya defisit anggaran sebesar Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76% dari produk domestik bruto. Performa APBN ini dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi nasional yang membaik dengan pertumbuhan kuartal I-2026 mencapai 5,61%.
Selain itu, tingkat kepatuhan wajib pajak yang berada di level 89% turut mendongkrak penerimaan perpajakan negara. Dari sisi pengeluaran, belanja negara dikelola secara terukur dengan fokus utama pada pemenuhan program prioritas dan perlindungan sosial.
Pemerintah terus berupaya menjaga keberlanjutan APBN dengan memprioritaskan anggaran untuk program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bansos. Optimalisasi penerimaan negara juga dijalankan tanpa menaikkan tarif pajak, melainkan memperkuat pengawasan serta menyempurnakan sistem Coretax.
"APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel, dan akuntabel." kata Purbaya Yudhi Sadewa.