Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Global

Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Global
Ilustrasi Rupiah, Sumber: kilasjatim.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis. Mata uang Indonesia ini melemah hingga mendekati level psikologis 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang di kawasan Asia. Nilai tukar rupiah bergerak melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Berdasarkan data Google Finance, kurs rupiah berada di level Rp 18.091,70 per dolar AS pada pukul 10.30 WIB. Bukan hanya rupiah, mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand juga turut melemah sekitar 0,1% ke level 33,47 per dolar AS.

Sementara itu, dolar Singapura cenderung bergerak stabil di kisaran 1,2930 per dolar AS. Pelemahan serentak ini mencerminkan kuatnya permintaan dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Rupiah berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS.

Pelaku pasar saat ini masih terus mencermati sejumlah sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan. Beberapa di antaranya adalah arah kebijakan suku bunga The Fed, konflik geopolitik Timur Tengah, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah juga sudah ditutup melemah pada perdagangan Rabu. Mata uang Garuda turun 34 poin atau 0,19% ke level 18.014 per dolar AS dari posisi sebelumnya.

Pelemahan ini juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun ke level 18.005 per dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah AS melancarkan serangan ke Iran.

"Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai 'biaya berat' atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial," ujarnya.

Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Situasi ini dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index