JAKARTA - Dewan Ekonomi Nasional menilai bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi. Sinergi antarlembaga ini dianggap sangat krusial untuk meredam tekanan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Kondisi ekonomi global yang tidak menentu harus direspons dengan menjaga stabilitas makro dalam jangka pendek. "Yang penting adalah menjaga kestabilan makroekonomi di jangka pendek. Apa langkah-langkah yang perlu dilakukan baik dari segi fiskal maupun moneter, dan koordinasi antara fiskal dan moneter itulah yang kami bahas," ujar Mari Elka Pangestu.
Gejolak global saat ini mulai berdampak terhadap perekonomian domestik, salah satunya melalui kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, koordinasi kebijakan menjadi prioritas utama agar dampak eksternal tersebut tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya dinilai masih cukup kuat. Namun, pemerintah tetap perlu mencermati pelemahan nilai tukar rupiah yang tercatat lebih dalam dibandingkan dengan beberapa negara lain yang selevel.
Kondisi ini menuntut pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel dan konsisten.
"Fundamental ekonomi Indonesia sebetulnya cukup baik. Namun kami memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada peers kami. Berarti kami juga harus mewaspadai bagaimana menjaga isu confidence dan trust," katanya. Forum diskusi lintas lembaga ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan respons kebijakan demi menghadapi dinamika ekonomi global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.