JAKARTA - Dorongan untuk mengasuh anak di rumah tanpa kehilangan kemandirian finansial memicu Elmin Roizer Damanik (56) membangun bisnis wastra tradisional khas Sumatera Utara, yaitu kain hiou.
Melalui kain khas Simalungun ini, ia tak hanya menenun dan berbisnis, tetapi juga menjaga kelestarian warisan leluhur demi generasi mendatang.
Mantan pengajar dan karyawan kantor notaris ini memutuskan mundur dari pekerjaannya usai berkeluarga demi mendampingi sang buah hati.
Meski berada di rumah, semangat berkaryanya tidak pernah padam.
Sejak tahun 2000, ia mulai menenun serta memasarkan ulos ke konsumen.
Tantangan operasional sempat dialaminya sewaktu harga bahan mentah melambung tinggi.
"2005, alami harga bahan baku meningkat, tetap harga jual turun di pasar,” ujar perajin dari sumbernya.
Kondisi tersebut mendorongnya memutar otak guna merintis strategi bisnis baru.
Pada tahun 2007, ia mengalihkan fokusnya untuk menekuni pembuatan hiou, wastra khas masyarakat Simalungun.
Ia menjelaskan bahwa hiou memiliki fungsi serupa ulos, yakni kain penutup tubuh, namun dinamai secara berbeda di tiap wilayah Sumatera Utara.
Sebutan Ulos digunakan di Batak Toba, Uis di Batak Karo, Oles di Batak Pakpak Dairi, Abit Godang di Batak Mandailing, dan hiou di Simalungun.
“Di pasar, hiou sangat sulit dicari. Lalu saya pelajari (membuat kain hiou-red). Saya pelajari motif, budaya, filosofi. Jatuh bangun (menjalani-nya),” ujar pemilik merek dari sumbernya.
Ia menegaskan bahwa pembuatan hiou terikat aturan baku mengenai ketetapan ukuran panjang dan lebarnya.
Oleh karena itu, sentuhan modern pada desainnya tetap menjaga kesucian nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
"Hiou Simalungun pada zaman dahulu dipakai istri raja. Dipakai istri raja dengan filosopi motif. Motif udan-udan, menandakan hujan itu sering ada di tanah Simalungun. Tanah Simalungun subur, penghasil buah dan sayur. Ada motif hati rongga, hati rongga ini motifnya lurus. Ini filosopi kami orang Simalungun berjalan sejajar tanpa mengusik orang lain. Ada juga motif tapak satur. Motif ini berarti hidup dalam keteraturan. Kehidupan orang Simalungun dari zaman dahulu sudah dibuat dalam tenunan diwariskan ke zaman sekarang,” kata perintis bisnis dari sumbernya.
Pengerjaan sehelai kain hiou memakan waktu lebih dari satu bulan, terutama jika menggunakan zat pewarna alami, dengan masa penenunan sekitar tiga pekan.
Demi mendalami makna motif kain, ia berdiskusi dengan para tokoh adat serta mempelajari berbagai referensi buku.
Proses menyerap ilmu budaya lokal tersebut diakuinya penuh tantangan.
“Saya menjumpai tua-tua Simalungun untuk belajar budaya Simalungun. Membeli buku, dan bertemu tua-tua Simalungun yang mengerti Simalungun. Disalahin dan dimarahin sudah biasa,” tutur binaan Bank Indonesia tersebut.
Keseriusannya mengelola bisnis kain budaya Sumatera Utara diwujudkan melalui label usaha Bah Pison yang didirikan sejak 2007.
Nama 'Bah' berarti sungai sehingga logo usahanya bernuansa biru, sedangkan 'Pison' mengacu pada nama sungai di Taman Eden.
"Jadi Sungai Pison yang memberkati sekeliling. Jadi berkat bagi sekitar,” sebut pengusaha dari sumbernya.
Sesuai filosofi namanya, ia merangkul warga sekitar, termasuk para orang tua, untuk mendukung proses produksi demi menopang ekonomi keluarga.
Ia juga terus memotivasi para stafnya agar berani menempuh pendidikan lebih tinggi.
“Ada (karyawan-red) yang sekolah sampai SMU. Kami motivasi setidaknya kuliah jadi sarjana, jadi mereka ambil kuliah sore. Setiap orang ke Bah Pison, saya tanya cita-citanya. Ada yang pernah bilang tidak punya cita-cita, tetapi kami motivasi agar punya cita-cita,” tutur pendiri merek dari sumbernya.
Kini unit usahanya didukung oleh 12 orang karyawan tetap.
Pemasaran produk dilakukan melalui gerai fisik serta saluran digital seperti media sosial dan lokapasar.
Meski pesanan dari mancanegara seperti Jerman dan Belanda terus berdatangan, pengiriman masih mengandalkan sistem bagasi langsung karena kendala tarif logistik.
"Kami menjual untuk seluruh Indonesia karena ada online juga. Pasar kami seluruh Indonesia dan luar negeri. Tetapi kalau ke luar negeri kendala di ongkos kirim. Dari luar negeri ada juga pesanan. Kami kalau ke luar negeri seperti Jerman dan Belanda itu dibawa, bukan dikirim,” jelas perajin dari sumbernya.
Ia sengaja tidak terlalu agresif di platform e-commerce demi menjaga keseimbangan stok barang eksklusifnya.
"Kami juga masuk ke e-commerce tetapi kurang aktif. Namun, kalau di offline sudah laku, bagaimana pertanggungjawaban di online. Karena barang kami limited, tak buat banyak,” tegas pemilik usaha dari sumbernya.
Selain produk kain lembaran, ia menghadirkan lini pakaian siap pakai dari tingkat anak-anak hingga dewasa.
“Kami membuat gaya pakaian lebih bebas, dan tidak hanya untuk formal saja,” sebut perancang dari sumbernya.
Kain tenun ditawarkan mulai dari harga Rp400 ribu hingga Rp20 juta untuk set busana pengantin, sedangkan pakaian siap pakai dipatok Rp250 ribu sampai Rp1 juta.
Dari aktivitas bisnis tersebut, omzet bulanan yang berhasil dikantongi mencapai kisaran Rp50 juta hingga Rp60 juta.
Ia menyarankan kepada para pengusaha muda untuk jeli melihat kebutuhan pasar serta menetapkan sasaran konsumen yang jelas.
"Kalau saya pengusaha, jangan takut jatuh bangun. Kalau istilah umum itu gagal. Itu bukan gagal, tetapi memacu pribadi untuk melejit lagi,” kata pengusaha dari sumbernya.
Dalam menyikapi peniruan karya, ia memilih fokus meningkatkan kualitas serta konsisten menciptakan rancangan baru.
”Misalkan begini kalau produk kami ditiru orang lain, kami percaya kami pasti mendesain lebih baik. Ketika produk kami ditiru orang lain berarti kami harus berbuat lebih baik lagi, kami tetap desain yang baru,” tutur pendiri usaha dari sumbernya.
Perjalanan usahanya mendapat pembinaan penuh dari Bank Indonesia sejak 2017 setelah mencetak angka penjualan tinggi pada peringatan Hari Ulos di Pematang Siantar.
“Kami diundang pemerintah kota Pematang Siantar merayakan Hari Ulos di Pematang Siantar pada 2017. Penjualan kami nomor dua tertinggi. Kami pun didampingi oleh BI,” kata perajin dari sumbernya.
Fasilitas pembinaan mencakup pelatihan manajemen, peningkatkan kualitas jahitan, peragaan busana, hingga persiapan menuju pasar ekspor.
“Kami difasilitasi dan dibina BI. Belajar tentang kain, motif, menjahit dan dibawa fashion show,” ujar pemilik bisnis dari sumbernya.