Untung Rugi Kebijakan Tenor KPR Subsidi Hingga 40 Tahun Terbaru

Kamis, 09 Juli 2026 | 13:12:51 WIB
Ilustrasi KPR, Sumber: sinarmasland.

JAKARTA - Rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan hingga 40 tahun dinilai dapat meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah. Kebijakan ini berpotensi memperluas basis pembeli di segmen rumah subsidi yang selama ini masih menghadapi kendala keterjangkauan.

Menurut Head of Research Department Colliers Indonesia Ferry Salanto, tenor yang lebih panjang akan membuat cicilan bulanan menjadi lebih ringan sehingga lebih banyak masyarakat bisa masuk ke pasar perumahan formal. Namun, efektivitas kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh sisi pembiayaan.

"Jadi dengan tenor yang lebih panjang, besaran cicilan bulanan tentunya akan jadi lebih ringan sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat yang sebelumnya belum mampu untuk mencicil dengan besaran yang ditetapkan sebelumnya untuk bisa masuk ke pasar perumahan," kata Ferry.

Meski demikian, ada dampak lain yang juga harus diperhatikan, yakni total biaya yang harus dibayar berpotensi jadi membengkak.

"Tenor yang panjang ini juga harus diimbangi dengan prinsip kehati-hatian karena memang cicilan bulanan jadi rendah tapi total bunga yang dibayarkan selama masa pinjaman juga akan menjadi lebih besar, sementara masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan keuangannya dalam jangka panjang," kata Ferry.

Di sisi lain, ketersediaan rumah yang sesuai dengan batas harga FLPP masih menjadi pekerjaan rumah. Selain pasokan, kesiapan sektor perbankan dan kemampuan calon debitur memenuhi persyaratan kredit juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan program tersebut.

Ferry menilai dampak paling besar akan dirasakan oleh pengembang yang fokus membangun rumah subsidi. Segmen ini berpeluang memperoleh tambahan permintaan yang cukup signifikan apabila akses pembiayaan semakin longgar.

"Bagi sektor properti, kami melihat dampak positifnya pasti akan terasa ke segmen rumah tapak yang bersubsidi dan pengembang yang memang fokus bermain di pasar MBR atau masyarakat berpenghasilan rendah," ujarnya.

Kebijakan tersebut juga diyakini dapat memberikan efek domino ke berbagai industri pendukung. Sektor bahan bangunan, konstruksi hingga pembiayaan berpotensi menikmati peningkatan aktivitas seiring bertambahnya penyerapan rumah subsidi.

Meski demikian, Ferry mengingatkan, manfaat kebijakan ini tidak akan merata ke seluruh sektor properti. Apartemen komersial dan rumah menengah hingga premium diperkirakan tidak akan memperoleh dampak yang terlalu besar karena karakteristik konsumennya berbeda.

"Secara umum untuk pasar properti termasuk apartemen komersial ataupun rumah menengah dan premium mungkin dampaknya relatif terbatas karena segmen ini memang karakteristik pembelinya agak berbeda dan tidak menjadi sasaran utama dari FLPP." ujarnya.

Terkini