JAKARTA - Publik kini disinyalir mulai terbiasa makan utang atau mengandalkan pinjaman guna memenuhi kebutuhan pokok harian.
Kondisi tersebut diduga bersumber dari makin menyusutnya cadangan dana masyarakat yang semula tersimpan di rekening tabungan.
Berawal dari maraknya tren makan tabungan (mantab), warga yang terhimpit persoalan finansial kini mengandalkan utang untuk membiayai kelangsungan hidup harian.
Sinyal ini menjadi peringatan penting bagi pihak pemerintah untuk segera menyediakan lapangan kerja berkualitas dan memicu lahirnya sektor bisnis baru demi menopang ekonomi warga.
Kondisi makan utang ini sekilas terpancar dari persentase simpanan terhadap pendapatan warga yang meluncur turun ke posisi 16,8 persen dari semula 17 persen berdasarkan laporan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI).
Tekanan paling berat dialami oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dengan rentang pengeluaran Rp1 juta hingga Rp4 juta, yang mencatatkan bantalan finansial paling tipis.
Rangkaian data tersebut menjadi bagian dari gambaran finansial konsumen yang meliputi alokasi penghasilan untuk konsumsi serta pembayaran cicilan utang.
Di saat bersamaan, porsi penerimaan yang terpakai untuk membayar cicilan atau utang malah merangkak naik pada Juli 2026.
Alokasi pendapatan yang terisap untuk melunasi cicilan membengkak menjadi 10,5 persen dari posisi 10 persen pada Juni 2026.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), dari sumbernya, menyebutkan fenomena mantab (makan tabungan) sudah bertransformasi menjadi era matang (makan utang) dalam satu atau dua tahun terakhir.
Rata-rata tabungan publik untuk nilai di bawah Rp100 juta menunjukkan tren penyusutan secara konsisten.
"Masyarakat terus menghabiskan tabungan. Bagi masyarakat yang sudah tidak mempunyai tabungan, tentu mereka berutang," kata dari sumbernya kepada Kompas.com, Selasa (1/9/2026).
Sebagai catatan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengabarkan simpanan bersaldo di bawah Rp100 juta masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 5,16 persen per Juni 2026.
Kendati demikian, kategori simpanan di atas Rp5 miliar tetap mendominasi laju pertumbuhan tertinggi yakni 15,44 persen secara tahunan pada rentang waktu yang sama.
Dari sumbernya menguraikan, di tengah pergerakan ekonomi yang serba sulit, opsi pinjaman yang paling mudah diakses warga adalah pinjaman online serta fitur paylater (buy now pay later/BNPL).
"Kedua jenis pembiayaan tersebut terus tumbuh dua digit," ungkap dari sumbernya.
Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baki debit pembiayaan pinjaman daring (pindar) per Juni 2026 menembus Rp105,14 triliun.
Torehan tersebut melesat 25,88 persen secara tahunan bila dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, baki debit kredit buy now pay later (BNPL) atau fasilitas paylater perbankan menyentuh Rp30,71 triliun hingga Juni 2026.
Capaian itu melaju positif 33,54 persen secara tahunan (yoy) jika disandingkan dengan periode serupa di tahun lalu.
Laju pertumbuhan ini terhitung sedikit melambat ketimbang catatan Mei 2026 yang sempat menyentuh 37,72 persen.
Adapun layanan paylater dari perusahaan pembiayaan (multifinance) terkumpul Rp13,40 triliun pada semester pertama 2026.
Angka pembiayaan tersebut melonjak 57,02 persen secara tahunan dibandingkan rentang serupa tahun lalu.
Mengacu pada deretan angka tersebut, dari sumbernya menilai lonjakan pembiayaan pada dua moda tersebut sangat kuat mengindikasikan kehadiran warga yang kehabisan simpanan untuk membiayai hidup harian.
"Artinya, dari sisi demand ada peningkatan yang berasal dari masyarakat yang sudah tidak punya tabungan," terang dari sumbernya.
Dari sumbernya memaparkan, imbas dari fenomena ini tentu menjadi beban finansial serius ketika masyarakat harus membayar cicilan sementara pendapatan sedang terhenti.
"Bahkan, jika berlanjut, besar kemungkinan terjadi gagal bayar yang tinggi," ucap dari sumbernya.
Dari sisi keuangan pribadi, dari sumbernya menerangkan bahwa warga berpotensi masuk dalam catatan merah Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK OJK).
Dampak panjangnya, warga akan menemui hambatan saat berniat mengajukan fasilitas pembiayaan pada Perusahaan Jasa Keuangan (PUJK).
"Untuk melakukan pembiayaan, maka akan sulit bagi masyarakat," terang dari sumbernya.
Bagi indikator ekonomi makro, dari sumbernya berujar fenomena ini dipastikan menekan tingkat konsumsi rumah tangga di masa depan.
"Ketika beban menumpuk, pendapatan seret, maka daya beli akan melemah. Ekonomi secara makro juga bisa melemah," ucap dari sumbernya.
Oleh karena itu, dari sumbernya menilai pemerintah wajib membenahi masalah daya beli publik dari akarnya.
Penyediaan lapangan kerja di sektor formal wajib ditingkatkan lewat penarikan investasi masuk ke tanah air.
"Bukan hanya shifting tempat seperti saat ini, tapi menciptakan industri baru," tutur dari sumbernya.
Perencana keuangan independen, dari sumbernya, mengamati situasi ini dipicu oleh tingkat pendapatan (income) publik yang tak seimbang dibanding tingginya beban pengeluaran yang mesti ditanggung.
Dalam jangka panjang, warga rentan terjebak dalam belenggu praktis gali lubang tutup lubang untuk membiayai kebutuhan.
"Artinya untuk memenuhi kebutuhannya ia berutang ke pihak A. Lalu untuk membayar utang ke pihak A maka ia berutang ke pihak B. Demikian terus seperti itu," terang dari sumbernya.
Di samping itu, dari sumbernya berpandangan bahwa keadaan ini memaksa publik harus sangat cermat dalam membelanjakan uangnya.
"Bahkan merelakan ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi," ungkap dari sumbernya.
Guna keluar dari jebakan fenomena makan utang ini, warga dapat mempertimbangkan beberapa alternatif solusi.
Dari sumbernya menyarankan agar warga aktif mengupayakan sumber pendapatan tambahan.
"Stop membuat utang baru," tegas dari sumbernya.
Sejalan dengan hal itu, ia mengimbau warga fokus mengurangi dan menyelesaikan beban utang yang ada.
Masyarakat juga disarankan ikhlas menjual aset yang dimiliki demi melunasi kewajiban utangnya.
Tindakan tersebut patut diambil apabila kondisi utang dirasa sudah terlampau berat.
"Atau ingin bisa melunasi dengan lebih cepat," tutup dari sumbernya.