JAKARTA - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengalami aksi lepas jual dari pemodal luar negeri senilai Rp 34,11 miliar pada sesi penutupan Kamis, 27 Agustus 2026, setelah kurun waktu sebelumnya menorehkan aksi beli bersih sejak 12 Agustus 2026 hingga 26 Agustus 2026, sebagaimana disadur dari sumbernya.
Kendati diterpa penawaran jual bersih, pergerakan nilai saham BCA justru menguat 0,79% menuju level Rp 6.400 melalui volume transaksi mencapai 60,56 juta lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 386,59 miliar.
Pada masa sebelumnya, pergerakan saham BCA sempat melemah selama dua hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 24 dan 26 Agustus 2026.
Pihak perbankan ini juga mempublikasikan agenda penyaluran dividen interim tahap kedua tahun buku 2026 sebesar Rp 3,07 triliun atau setara Rp 25 per lembar saham, yang mana telah memperoleh persetujuan jajaran dewan komisaris pada 19 Agustus 2026.
Tanggal batas akhir pemilikan saham yang berhak mendapat dividen (cum date) jatuh pada 28 Agustus 2026, dengan penetapan daftar pemegang saham peneriba manfaat pada 1 September pukul 16.00 WIB.
Proses pencairan dana dividen dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026.
Deretan pemegang saham utama penerima dividen interim ini di antaranya PT Dwimuria Investama Andalan lewat penguasaan 54,94% porsi saham BCA, berpeluang memperoleh dividen Rp 1,69 triliun, serta PT Caturguwiratna Sumapala beserta PT Tricipta Mandhala Gumilang yang masing-masing mengapit sekitaran 1% saham dan berpeluang memperoleh bagian sebesar Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar.
Seorang pebisnis dari sumbernya tercatat menggenggam 1,15% porsi saham BCA dan berpotensi meraih deviden senilai Rp 35,4 miliar.
Dari sumbernya menyatakan, "Nilai dividen interim yang dibagikan oleh BBCA pada kuartal III tahun buku 2026 telah mempertimbangkan posisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, pengembangan bisnis perseroan maupun entitas anak, hingga kualitas aset yang terjaga."
Dari sumbernya menerangkan, "Untuk rencana pembagian dividen interim selanjutnya, besaran dividen per saham akan mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan kondisi keuangan perseroan. Pihaknya juga merasa bersyukur dapat kembali menjalankan komitmen untuk membagikan dividen interim lebih dari satu kali pada tahun buku 2026."
Seluruh alokasi dividen interim yang disalurkan sepanjang tahun buku 2026 bakal dihitung ulang di dalam dividen akhir yang disahkan saat forum RUPST tahun 2027 kelak.
BCA mencatatkan pencapaian laba bersih (hanya induk perbankan) berjumlah Rp 35,3 triliun sepanjang periode Januari-Juli 2026, selaras perkiraan.
Pengamat pasar modal dari sumbernya menerangkan, "Laba bersih BCA hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis."
Capaian perolehan bersih ini berbuah kenaikan sebesar 2% secara tahunan.
Pada masa bulan Juli 2026 saja, perolehan laba bersih menembus Rp 5,1 triliun, atau terangkat 5% yoy dan 12% mom.
Hasil pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) turut menguat 4% yoy menuju nominal Rp 7,1 triliun sepanjang Juli, disertai percepatan 6% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Akan tetapi secara kumulatif, perolehan NII selama kurun tujuh bulan pertama pada 2026 cuma tumbuh 0,3% yoy dipicu oleh hambatan pada selisih bunga bersih (NIM).
Rasio NIM kembali terangkat 30 basis poin ke posisi 5,5% pada bulan Juli usai sempat terkoreksi ke angka 5,2% pada Juni, walau masih turun 20 bps yoy ketimbang periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tingkat laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) menyentuh nominal Rp 6,5 triliun di bulan Juli 2026, merangkak 9% mom, ditopang perolehan pendapatan non-bunga yang melonjak 18% mom serta 10% yoy, di tengah pembengkakan biaya operasional.
Porsi alokasi dana murah (CASA) terus menunjukkan tren perbaikan menuju level 85,4% pada Juli 2026, beranjak naik dari posisi 85,2% pada Juni serta 83,4% pada Juli 2025, disokong oleh dorongan dana murah sebesar 11% yoy, sementara alokasi simpanan berjangka tergerus 5% yoy.
Lembaga sekuritas dari sumbernya memilih mempertahankan arahan beli atas transaksi saham BCA pada target nilai Rp 8.700, yang mencerminkan taksiran harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026 dan 3 kali untuk tahun 2027, dengan potensi tantangan berupa perlambatan pengucuran kredit serta dinamika iklim ekonomi makro, menurut pandangan dari sumbernya.