JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda pada 2027 diprediksi masih menjumpai tantangan berat walau peluang apresiasi tetap ada.
Patokan kurs pada RAPBN 2027 di level Rp 17.500 per dolar AS dianggap lebih masuk akal ketimbang patokan Rp 16.500 per dolar AS pada APBN 2026, tetapi tergolong lumayan optimistis.
Analisis dari pakar keuangan mengindikasikan, posisi nilai tukar yang berada di kisaran Rp 17.800-an per dolar AS pada pertengahan Agustus 2026 memperlihatkan dibutuhkannya pemulihan iklim eksternal yang konsisten agar rerata nilai tukar dapat menginjak Rp 17.500 pada 2027.
"Menurut saya, asumsi Rupiah Rp 17.500/USD dalam RAPBN 2027 jauh lebih realistis dibanding asumsi Rp 16.500 per dollar AS pada APBN 2026, tetapi tetap relatif optimistis," ujar pengamat dari sumbernya.
Pihak pengamat memproyeksikan rupiah rentan tertekan pada triwulan III-2026 pada rentang Rp 17.900-Rp 18.150 per dolar AS.
Guncangan tersebut utamanya dipicu ketidakpastian arah kebijakan Bank Sentral AS, harga komoditas minyak yang berpotensi terus meroket, serta dinamika geopolitik.
Kendati demikian, rupiah berkesempatan menguat mendekati Rp 17.900 per dolar AS pada penutupan tahun 2026 seiring berjalannya potensi redanya ketegangan geopolitik.
Tren positif diprediksi berlanjut pada 2027 bilamana situasi mancanegara secara perlahan makin kondusif.
"Karena itu, saya tidak melihat Rp 17.500 sebagai angka yang mustahil, tetapi risikonya masih lebih condong ke arah rupiah lebih lemah daripada asumsi pemerintah, terutama pada awal 2027," katanya.
Berdasarkan pandangannya, faktor penentu pergerakan nilai mata uang adalah disparitas tingkat bunga dan arus modal masuk.
Saat ini bank sentral AS masih mematok suku bunga utama di level 3,50%-3,75%, menjadikan tingkat suku bunga internasional bertahan tinggi.
Selama hasil surat utang AS dan mata uang dolar AS kokoh, negara berkembang termasuk Indonesia wajib menawarkan kompensasi risiko memadai demi menggaet dana asing.
Dari dalam negeri, otoritas moneter masih mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% dan memprioritaskan kestabilan kurs sebagai fokus utama.
Di luar sentimen global, kebutuhan mata uang asing dalam negeri tetap tinggi.
Menurut penjelasannya, impor barang modal guna menyokong hilirisasi, sarana data center, serta proyek energi LNG berdampak positif untuk kapasitas produksi jangka menengah.
Namun pada jangka pendek, permintaan tersebut melonjakkan kebutuhan terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut diperberat pembayaran dividen, kewajiban utang luar negeri, serta potensi membengkaknya defisit transaksi berjalan.
"Ditambah kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri dan potensi pelebaran current account deficit, kondisi ini membuat penguatan Rupiah kemungkinan tidak akan berlangsung secara agresif," jelasnya.
Sementara itu pengamat menilai, depresiasi rupiah melampaui patokan Rp 17.500 per dolar AS bakal memberikan imbas bervariasi bagi postur APBN.
Pada satu sisi, koreksi nilai tukar bisa mengerek pemasukan negara berbasis valas, termasuk dari sektor migas.
Namun di sisi lain, penurunan nilai tukar turut melonjakkan beban subsidi energi serta kewajiban pembayaran bunga dan pokok utang valas.
Beban terhadap APBN bakal kian berat seandainya pelemahan kurs berbarengan dengan melesatnya imbal hasil SBN.
"Jika pelemahan Rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan yield SBN, tekanannya menjadi lebih besar karena pemerintah menghadapi exchange-rate risk dan refinancing cost sekaligus," kata narasumber dari sumbernya.
Menurutnya, dinamika tersebut jauh lebih krusial untuk diantisipasi ketimbang sekadar memantau apakah kurs menembus batasan Rp 17.500 per dolar AS.
Ancaman utama di tahun 2027 yakni kombinasi penguatan dolar AS, tingkat imbal hasil obligasi AS yang tinggi, serta tingginya keharusan pembiayaan dalam negeri.
Selain itu, dinamika harga minyak dunia dan situasi geopolitik kawasan Timur Tengah patut diwaspadai.
Indonesia sebagai negara pemakai bersih minyak akan menanggung beban ganda bilamana harga minyak kembali membumbung.
Fenomena tersebut berisiko menjalar ke transaksi berjalan, nilai tukar, subsidi energi hingga laju inflasi.
Dari aspek domestik, kepercayaan fiskal menjadi kunci utama.
Dinamika imbal hasil SBN dan mata uang rupiah amat sensitif pada penilaian investor atas kapabilitas pemerintah mengelola defisit serta porsi penerbitan utang di tengah pengeluaran prioritas.
"Base case kami memang ada ruang untuk stabilisasi dan penguatan tahun depan ketika tekanan global mereda, tetapi kami melihat jalurnya tetap volatile dan asumsi Rp17.500 masih membutuhkan kondisi yang cukup supportive," ujarnya.
Lantaran hal tersebut, ahli tersebut menyarankan APBN 2027 tidak hanya berpijak pada satu titik patokan nilai tukar.
Pemerintah wajib menyediakan buffer guna menghadapi skenario pergerakan rupiah melampaui Rp 17.500 per dolar AS serta imbal hasil SBN yang membengkak melebihi perkiraan.
Strategi ini krusial agar gejolak pasar tidak mendadak memicu pemotongan pengeluaran produktif maupun pembengkakan pembiayaan baru.