Pasar Saham Masih Rawan Koreksi Pantau Saham DEWA INDY dan WIFI

Senin, 18 Mei 2026 | 14:25:18 WIB
Ilustrasi IHSG, Sumber: emitennews.

JAKARTA - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan pada aktivitas perdagangan hari ini, Senin 18 Mei 2026.

Kendati demikian, celah keuntungan bagi para pelaku pasar saham masih tetap terbuka di tengah situasi pasar yang melemah tersebut.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang meneruskan tren koreksinya pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Hal ini seiring dengan belum meredanya tekanan dari sentimen global maupun domestik.

Pada akhir sesi perdagangan Rabu (13/5/2026), IHSG terpuruk dengan penurunan sebesar 1,98 persen dan bertengger di posisi 6.723,32.

Penurunan ini didorong oleh perpaduan sentimen luar negeri serta aksi lepas saham oleh pemodal asing yang masih menyelimuti pasar saham domestik.

Sepanjang aktivitas perdagangan dalam kurun 30 hari ke belakang, IHSG tercatat mengalami penurunan kumulatif sebesar 910,68 poin atau merosot sebesar 11,93 persen.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, berpendapat bahwa laju IHSG saat ini masih berada dalam kondisi tertekan serta rentan meneruskan tren penurunan untuk periode jangka pendek.

“IHSG kami perkirakan masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support di 6.682 dan resistance di 6.789,” kata Herditya pada Jumat (15/5/2026).

Berdasarkan penjelasan Herditya, ada beberapa sentimen negatif yang membebani laju indeks pasar modal saat ini.

Faktor-faktor tersebut meliputi eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, aksi jual masif, potensi keluarnya modal asing akibat penataan ulang bobot indeks MSCI, hingga fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Saras dengan pandangan itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengutarakan bahwa kemerosotan IHSG turut dipicu oleh rilis ulasan triwulanan indeks MSCI.

“IHSG kembali melemah akibat pengumuman review kuartalan indeks MSCI, di mana sejumlah saham dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index,” jelas Alrich.

Walaupun begitu, Alrich memandang bahwa tekanan dari arus modal asing yang keluar tidaklah sesignifikal dari apa yang ditakutkan oleh para pelaku pasar sebelumnya.

Ditambah lagi, posisi Indonesia yang tetap kokoh sebagai negara berkembang ikut memelihara rasa percaya diri para penanam modal.

“Perkiraan foreign outflow tidak sebesar proyeksi awal, dan sebagian arus dana keluar sebelumnya sudah mengantisipasi langkah MSCI tersebut,” tambahnya.

Bila ditinjau dari sudut pandang teknikal, indikator pergerakan pasar pun masih memperlihatkan adanya indikasi tekanan yang berkelanjutan.

Hal ini tampak dari melebarnya histogram negatif pada indikator MACD yang terus berjalan, ditopang oleh stochastic RSI yang mulai bergeser ke area jenuh jual.

Berkaca pada situasi itu, pergerakan IHSG diproyeksikan memiliki potensi untuk menguji rentang area support pada level 6.700 sampai dengan 6.650 di awal perdagangan pekan ini.

Mengenai saham-saham pilihan yang layak dipantau, Herditya memberikan rekomendasi kepada para pelaku pasar untuk memperhatikan saham DEWA pada kisaran Rp 540-Rp 595, INDY pada posisi Rp 3.160-Rp 3.440, serta WIFI pada rentang Rp 2.460-Rp 2.710.

Para pelaku pasar diimbau untuk terus memantau dinamika sentimen global, fluktuasi nilai mata uang rupiah, serta arah pergerakan dana asing yang diprediksi masih memicu gejolak naik turunnya IHSG dalam jangka pendek.

Terkini