Ferrero Kini Orang Terkaya Kedua di Italia, Kekayaan Capai Rp 757 Triliun

Ferrero Kini Orang Terkaya Kedua di Italia, Kekayaan Capai Rp 757 Triliun

MEDIAKEUANGAN.ID — Di balik merek-merek cokelat yang mudah ditemukan di minimarket hingga supermarket di Indonesia, ada nama Giovanni Ferrero yang mengendalikan semuanya. Pria Italia berusia 71 tahun ini adalah Executive Chairman Ferrero Group, perusahaan keluarga yang menguasai pangsa pasar besar untuk produk hazelnut dan permen di dunia.

Ekspansi Lewat Akuisisi Raksasa Global

Ferrero Group tidak hanya tumbuh organik. Di bawah kendali Giovanni, perusahaan gencar melakukan akuisisi untuk memperbesar portofolio. Pada 2015, tahun yang sama ia mengambil alih kendali penuh perusahaan setelah sang ayah, Michele Ferrero, wafat, Ferrero mengakuisisi perusahaan cokelat asal Inggris, Thornton, senilai US$170 juta (sekitar Rp2,6 triliun).

Tiga tahun berselang, langkah yang lebih besar diambil. Ferrero membeli Butterfinger dan unit bisnis permen Nestle, Babyruth, dengan nilai transaksi US$2,8 miliar (sekitar Rp43 triliun). Akuisisi ini sekaligus menandai masuknya Ferrero ke pasar permen AS secara lebih agresif, bersaing langsung dengan Mars dan Hershey.

Kepemimpinan di Tengah Duka Keluarga

Giovanni tidak serta-merta duduk di kursi puncak. Ia mengambil alih posisi CEO tunggal pada 2011 setelah sang kakak, Pietro Ferrero, meninggal dunia. Empat tahun kemudian, setelah ayahnya wafat, ia memegang kendali penuh perusahaan sebagai Executive Chairman. Sejak 2018, ia melepas titel CEO untuk fokus pada arah strategis perusahaan.

Di luar dunia bisnis, Giovanni dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup. Ia jarang muncul di publik dan menjaga kehidupan personalnya dari sorotan media. Yang jarang diketahui publik, ia juga seorang novelis yang telah menerbitkan delapan buku.

Dari Toko Kue di Masa Perang ke Imperium Cokelat

Sejarah Ferrero Group dimulai jauh sebelum Giovanni lahir, tepatnya di tengah gejolak Perang Dunia II. Sang kakek, Pietro Ferrero, membuka toko kue di Dogliani, barat laut Italia, pada 1923. Saat perang berkecamuk, cokelat menjadi barang mewah yang sulit didapat. Pietro pun bereksperimen dengan bahan lokal—hazelnut—untuk menciptakan alternatif cokelat yang lebih terjangkau.

Eksperimen itu menjadi fondasi lahirnya Nutella, selai cokelat hazelnut yang kini terjual hingga US$19 miliar per tahun. Dari situ, Ferrero Group berkembang menjadi salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia, dengan produk ikonik lain seperti Kinder, TicTac, dan Ferrero Rocher yang mendunia, termasuk pasar Indonesia.

(Artikel ini disusun berdasarkan data publik Forbes dan laporan Fine Dining Lovers. Investasi mengandung risiko.)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index