JAKARTA - Guncangan pasar keuangan sepanjang paruh pertama 2026 turut memangkas performa investasi pada sektor dana pensiun konvensional.
Koreksi pada sektor saham dan pergeseran return instrumen pendapatan tetap menjadi pemicu yang menahan tingkat return on investment (ROI) hingga Juni 2026.
Di tengah situasi tersebut, pencapaian ROI Dana Pensiun BCA tercatat di level 1,65% pada Juni 2026.
Dari sumbernya menyatakan bahwa torehan tersebut memang lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi pada masa yang sama tahun lalu, sejalan dengan tren pelemahan pasar keuangan secara menyeluruh.
“Kondisi ini dipicu oleh harga pasar saham pada akhir 2026 yang mengalami penurunan paling dalam sepanjang tahun ini sehingga secara langsung berdampak negatif pada portofolio saham,” ujarnya kepada Kontan, (12/8/2026).
Di sisi lain, melambungnya tingkat suku bunga bersama yield obligasi serta Surat Berharga Negara (SBN) di pasar juga memicu penyesuaian unrealized mark-to-market atas kepemilikan portofolio obligasi dan SBN lama milik dana pensiun.
Perpaduan antara koreksi harga saham dan tekanan nilai pasar aset pendapatan tetap lama berdampak besar pada perolehan ROI industri secara keseluruhan dalam jangka pendek.
Meski begitu, potensi perbaikan ROI tetap terbuka luas pada semester II-2026.
Tingkat suku bunga acuan dan yield obligasi yang berada pada level tinggi diperkirakan dapat dimaksimalkan untuk melakukan penempatan instrumen pendapatan tetap dengan hasil yang lebih tinggi untuk jangka panjang.
Tak hanya itu, momentum kebangkitan bertahap di pasar modal diharapkan dapat menyokong pemulihan nilai portofolio investasi.
Untuk membenahi kinerja investasi, dari sumbernya mengungkapkan bahwa strategi pengelolaan aset dan kewajiban serta penerapan prinsip kehati-hatian dilaksanakan secara berkesinambungan.
Optimalisasi reinvestasi dijalankan dengan memanfaatkan momentum kenaikan hasil guna melakukan akumulasi terukur pada instrumen berisiko rendah serta likuid, seperti SBN dan obligasi korporasi berkualitas investasi.
Di luar itu, diversifikasi portofolio secara terukur juga dilaksanakan untuk memelihara keseimbangan alokasi antara instrumen pasar uang dan instrumen jangka panjang.
Di samping itu instrumen pasar uang difungsikan untuk menjaga kepastian likuiditas jangka pendek, sedangkan instrumen jangka panjang diproyeksikan untuk menjaga stabilitas imbal hasil.
Ditambah lagi, ketahanan portofolio terus dipantau secara berkala melalui stress test terhadap fluktuasi suku bunga maupun pasar saham.
Upaya tersebut dilaksanakan guna memitigasi potensi penurunan nilai pasar aset secara lebih awal.
Berbekal strategi ini, pemulihan ROI diharapkan mampu berlanjut pada sisa tahun 2026 seiring perkembangan kondisi pasar keuangan.