Menkeu Purbaya Sebut APBN Aman dan Jaga Defisit di Bawah 3 Persen

Menkeu Purbaya Sebut APBN Aman dan Jaga Defisit di Bawah 3 Persen
Ilustrasi APBN, Sumber: metrotvnews.

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa situasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini berada dalam posisi yang aman. Pemerintah terus menerapkan disiplin fiskal demi menjaga defisit keuangan negara tidak melewati ambang batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), serta rasio utang yang bertahan di level 40 persen dari PDB.

Purbaya mengimbau publik agar tidak cemas terhadap pengelolaan fiskal tanah air karena seluruh prosesnya berlangsung akuntabel serta melewati pemeriksaan lembaga resmi. "Saya enggak mungkin berbohong, karena kan di audit, sama BPK dan lain-lain. Sekarang defisit kami kan tetap dijaga di bawah 3 persen dari PDB. Tahun lalu hanya 2,81 persen. Tahun ini mungkin juga dia akan di bawah 2,9 persen. Limitnya kan 3 persen," ucapnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa posisi utang negara saat ini masih jauh lebih aman apabila disandingkan dengan kondisi di berbagai negara dunia. "Rasio utang kami ke PDB masih sekitar 40 persen. Belum sampai 60 persen. Masih jauh dari 60 persen. Kami masih aman." tutur Purbaya.

Purbaya kemudian memberikan perbandingan mengenai rasio utang Indonesia terhadap beberapa negara lain. Menurut penjelasannya, rasio utang milik Amerika Serikat sudah melewati angka 100 persen dari PDB, Jepang berkisar 275 persen, Jerman 60 persen, Singapura 175 persen, Thailand mendekati 70 persen, dan Malaysia berada pada level 60 persen.

"Kalau kami dibanding Amerika, 100 persen. Jepang, 275. Jerman, 60. Singapura, 175 kalau nggak salah. Thailand hampir 70-an. Malaysia agak tinggi juga, 60. Kalau lihat dari standar-standar internasional yang paling ketat pun, kami masih prudent." tuturnya.

Di samping memaparkan kondisi kas negara, Purbaya membagikan cerita bahwa ia sempat memberikan masukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto agar mengontrol defisit APBN di bawah 3 persen. Menurut sang Menteri Keuangan, kepatuhan terhadap batasan tersebut sangat krusial demi menjaga stabilitas ekonomi sekaligus kepercayaan pasar global.

Lebih lanjut, ia mengisahkan bahwa sempat muncul sebuah wacana dalam sebuah diskusi untuk melonggarkan batas defisit tersebut. Namun, hal itu segera mendapatkan tanggapan berupa keberatan dari dirinya yang langsung disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Pertama dia mau gitu. Gimana kalau tembus (defisitnya)? Oh jangan Pak. Saya bilang kalau sekarang kami tembus di atas 3 persen. Semua pasti meribut kan." tuturnya.

Menurut pandangan Purbaya, apabila ambang batas defisit itu dilanggar di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kuat, maka hal tersebut berisiko memicu sentimen negatif pada pasar keuangan. "Kami enggak bisa jaga stabilitas. Nanti Pak kalau kami udah tembus 7-8 persen kami hajar 3-4 persen nggak apa-apa." ucap Menkeu Purbaya.

Presiden Prabowo Subianto pun langsung merespons dengan menyesuaikan arah pandangannya setelah mendengarkan argumen serta penjelasan logis tersebut. Bahkan pada momen berikutnya, Presiden justru memberikan usulan sebaliknya agar angka defisit ditekan hingga menyentuh angka nol.

Akan tetapi, Purbaya kembali memberikan pertimbangan dan pandangan yang berbeda mengenai usulan tersebut. Ia berargumen bahwa pemotongan defisit secara drastis tidak boleh dilakukan terburu-buru mengingat roda ekonomi nasional masih memerlukan sokongan dari fiskal.

"Nah sekarang dia malah berbalik arah. Gimana kalau kami buat nol defisitnya? Oh jangan Pak, ekonomi masih butuh dorongan. Kami atur pelan-pelan ke bawah." kata Purbaya.

Purbaya menilai bahwa proses penyesuaian pada kebijakan fiskal ini wajib dieksekusi secara bertahap. Hal ini ditujukan agar dinamika perekonomian dalam negeri dapat menyerap perubahan tersebut dengan baik.

Keseimbangan yang solid antara penegakan disiplin fiskal serta pemberian stimulus bagi pertumbuhan ekonomi menjadi pilar utama dalam mempertahankan stabilitas makroekonomi nasional. Upaya ini menjadi sangat penting di tengah terpaan berbagai macam tantangan global yang tidak menentu.

"Presiden itu pintar jadi jangan takut," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index