Defisit APBN 2025 Menyusut 2,81 Persen dan Proyeksi 2,9 Persen di 2026

Defisit APBN 2025 Menyusut 2,81 Persen dan Proyeksi 2,9 Persen di 2026
Ilustrasi APBN, Sumber: ajaib.

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa defisit APBN 2025 mengalami penurunan hingga menjadi 2,81 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini diperoleh berdasarkan hasil Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Sebelumnya, perkiraan sementara defisit anggaran hingga akhir Desember 2025 yang dipublikasikan pada awal 2026 mencapai Rp695,1 triliun atau setara dengan 2,93 persen terhadap PDB.

Selisih tersebut merupakan hasil dari total pendapatan negara sebesar Rp2.756,3 triliun dikurangi dengan total pengeluaran belanja yang mencapai Rp3.451,4 triliun. "Untuk 2025 kami bisa tekan di bawah 3% di 2,81% [terhadap PDB]. Sebelumnya kami umumkan 2,9%, ternyata lebih bagus daripada 2,9% ke 2,81%," ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD di Kompleks Parlemen Senayan.

Purbaya menjelaskan dalam beberapa kesempatan sebelumnya bahwa penurunan defisit tahun lalu ini mengacu pada versi LKPP resmi yang telah selesai diaudit oleh pihak pemeriksa keuangan negara.

Walaupun menunjukkan penyusutan, realisasi defisit APBN tahun lalu tersebut tercatat masih lebih tinggi dibandingkan target awal yang ditetapkan sebesar 2,53 persen terhadap PDB maupun proyeksi Laporan Semester sebesar 2,78 persen terhadap PDB.

Menteri Keuangan memproyeksikan kondisi yang serupa juga berpotensi terjadi pada tahun berjalan ini. Pada 2026, defisit anggaran diperkirakan dapat mengalami pelebaran hingga mendekati kisaran 2,9 persen terhadap PDB dari target awal sebesar 2,68 persen.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pembengkakan beban alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik beserta dana kompensasi yang disalurkan kepada perusahaan energi milik negara.

"Untuk 2026, di tengah kenaikan beban pembayaran subsidi BBM, dan listrik, kami masih bisa menekan defisitnya di bawah 3%. Kami desain sekarang mendekati 2,9%, atau lebih rendah lagi. Saya yakin kalau harga minyaknya turun ke bawah ke level yang sebelumnya, di paruh kedua tahun ini, defisit akan bisa turun ke bawah 2,9%," tambahnya.

Hingga akhir Mei 2026, posisi defisit anggaran dilaporkan telah menyentuh angka Rp180,4 triliun atau sekitar 0,70 persen terhadap PDB. Pendapatan negara sudah terealisasi sebesar Rp1.185 triliun, dengan sokongan utama dari sektor perpajakan yang menyumbang Rp834,4 triliun atau tumbuh sebesar 22,1 persen secara tahunan (yoy). Data terkini hingga pertengahan Juni 2026 menunjukkan penerimaan pajak terus bertambah hingga menembus Rp940 triliun.

Di sisi lain, penyerapan belanja negara sampai dengan akhir Mei 2026 sudah menyerap dana sebesar Rp1.365,4 triliun. Lonjakan pengeluaran ini didorong oleh tingginya pembiayaan subsidi serta kompensasi yang secara akumulatif telah menembus angka Rp207,3 triliun atau melonjak tajam hingga 208 persen secara tahunan.

Kondisi ini dipicu oleh tren kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik global, di mana asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) mengalami deviasi hingga mencapai level US$91,9 per barel.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index