IHSG Ditutup Menguat 0,08 Persen di Tengah Aksi Jual Investor Asing

IHSG Ditutup Menguat 0,08 Persen di Tengah Aksi Jual Investor Asing
Ilustrasi IHSG, Sumber: investor.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan di zona hijau dengan kenaikan tipis sebesar 0,08 persen ke level 6.177,14. Laju indeks terdongkrak oleh performa positif saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Sebaliknya, pelemahan terdalam dialami oleh saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Pada pasar reguler, investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp3,14 triliun, sementara keseluruhan pasar membukukan net sell sebesar Rp3,19 triliun. Secara sektoral, lima dari sebelas sektor mampu bertahan di zona hijau dengan sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 1,61 persen. Di sisi lain, sektor properti menjadi penekan terbesar setelah merosot sedalam 1,86 persen.

Pasar keuangan Amerika Serikat menghentikan aktivitas perdagangan karena libur nasional Juneteenth National Independence Day.

Fokus pasar pekan ini tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) serta revisi final PDB AS. Data ekonomi ini sangat krusial karena akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Pelaku pasar juga menantikan pengumuman resmi mengenai klasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari MSCI. Sementara itu, indeks offshore MSCI Indonesia terpantau melemah sebesar 0,77 persen, sedangkan ETF Indonesia (EIDO) bergerak stabil.

Dari dalam negeri, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) memulai proses pembentukan harga atau book building mulai 22 hingga 24 Juni 2026. Aksi korporasi ini dilakukan sebelum resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli mendatang.

Emiten yang bergerak di bidang perdagangan besar peralatan laboratorium, farmasi, dan alat kesehatan ini membidik dana segar hingga Rp269,27 miliar dengan rentang penawaran Rp446 sampai Rp515 per saham.

Dana hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan sekitar Rp50 miliar untuk melunasi sebagian pokok pinjaman bank. Selanjutnya, sebesar 11,8 persen dialokasikan sebagai belanja modal untuk pembangunan pabrik baru di Cikupa. Porsi terbesar sebesar 68,7 persen akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pengadaan barang operasional proyek serta persediaan bahan baku.

Langkah strategis juga diambil PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang mematangkan rencana Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) IV. Perusahaan akan menerbitkan maksimal 2,44 miliar saham baru atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga pelaksanaan dipatok paling rendah 90 persen dari rata-rata harga penutupan MDKA selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum permohonan pencatatan.

Dana hasil private placement ini akan dibagi menjadi dua bagian, di mana sekitar 30 persen digunakan untuk modal kerja emiten dan entitas anak. Sisa 70 persen akan dialokasikan untuk ekspansi usaha, mulai dari belanja modal, akuisisi saham, hingga pembelian aset strategis pada perusahaan yang sejenis. Hingga kini, identitas investor yang akan menyerap saham baru tersebut belum ditentukan.

Jika seluruh saham baru ini terserap, persentase kepemilikan pemegang saham lama akan terkena dilusi maksimal 9,09 persen. Rencana ini masih membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang akan digelar pada 23 Juni.

Kabar emiten lain datang dari PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang menyetujui pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp166 per saham, dengan total mencapai Rp415,35 miliar. Rasio pembayaran dividen ini setara dengan 65,35 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang tahun 2025, BIRD membukukan pendapatan sebesar Rp5,71 triliun atau naik 13,2 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan juga terkerek naik 8,56 persen menjadi Rp643,41 miliar yang didorong pertumbuhan EBITDA sebesar 13,36 persen menjadi Rp1,30 triliun. Hal ini membuat laba bersih per saham meningkat menjadi Rp254 dari posisi sebelumnya sebesar Rp234.

Pada penutupan perdagangan 19 Juni, saham BIRD berada di level Rp1.675 per lembar, mencerminkan yield dividen sekitar 9,91 persen. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 30 Juni 2026, sementara pembayaran dividen akan dilakukan pada 10 Juli 2026.

Berikut detail panduan transaksi saham hari ini:

MYOR - Buy 1970-1980 | TP 2010-2040 | SL 1870

MIKA - Buy 1570-1580 | TP 1610-1650 | SL 1500

GGRM - Buy 16475-16525 | TP 16725-16850 | SL 15650

HATM - Buy 340-342 | TP 350-356 | SL 320

HMSP - Buy 630-640 | TP 655-665 | SL 600

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index