Rupiah Stabil Jadi Penopang IHSG Menembus Level 7500 Pada 2026

Rupiah Stabil Jadi Penopang IHSG Menembus Level 7500 Pada 2026
Ilustrasi IHSG, Sumber: idx.co.

JAKARTA - Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, prospek pasar saham domestik hingga akhir 2026 diyakini menjanjikan. Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan menembus level psikologis 7500, didorong oleh kestabilan nilai tukar rupiah yang mulai membaik serta potensi masuknya kembali aliran dana asing.

Stabilitas mata uang Garuda menjadi faktor utama yang memperkuat kepercayaan investor dan menopang penguatan pasar saham dalam beberapa bulan mendatang.

Nilai tukar rupiah berpeluang lebih stabil dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Kurs diperkirakan menguat di kisaran Rp 17.400-Rp 17.600 per dollar AS seiring langkah stabilisasi otoritas moneter.

Kestabilan kurs penting karena dapat mengurangi fluktuasi atau currency risk yang selama ini menjadi pertimbangan utama investor asing menempatkan dana di pasar domestik.

Ketika rupiah lebih stabil, ketidakpastian berkurang sehingga meningkatkan daya tarik aset domestik. Selain memberi kepastian bagi pelaku pasar, stabilitas kurs juga mendukung kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Membaiknya kondisi eksternal dan menurunnya risiko nilai tukar menjadi katalis positif bagi pasar saham karena mendorong kembalinya aliran dana asing. Jika arus modal asing meningkat, IHSG akan semakin terangkat.

“Ketika pergerakan rupiah mulai stabil, risiko fluktuasi kurs bagi investor otomatis akan berkurang drastis. Hal ini jelas menjadi katalis yang sangat positif bagi pasar modal kami, karena kestabilan kurs lambat laun akan memperkuat performa neraca perdagangan sekaligus memicu kembalinya aliran dana asing secara masif ke Indonesia,” ujar sumber.

Sebagai informasi, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps dalam kurun waktu kurang dari satu bulan pada 2026. Jadwal kenaikan yaitu: 50 basis poin pada 20 Mei 2026, 25 basis poin di 9 Juni 2026, dan 25 basis poin pada 18 Juni 2026.

Pada penutupan perdagangan Kamis sore, rupiah di pasar spot melemah. Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dollar AS. Pelemahan terjadi tak lama setelah BI menaikkan suku bunga 25 basis poin.

Meski BI masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan, bursa saham dalam negeri tetap optimistis hingga akhir tahun. Stabilitas rupiah dan berkurangnya ketidakpastian kebijakan menjadi faktor penguatan pasar.

“Meskipun BI masih membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan, kami tetap optimistis melihat target jangka panjang bursa domestik,” paparnya.

Pasar saham diyakini masih memiliki ruang penguatan cukup besar untuk menembus level 7500 hingga akhir 2026. Namun, kenaikan suku bunga acuan memberi tantangan bagi saham bertumbuh atau growth stocks.

Kenaikan BI Rate mendorong naiknya tingkat suku bunga bebas risiko yang menjadi komponen utama penilaian valuasi saham. Secara teori, kenaikan suku bunga meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan menghitung nilai saat ini dari potensi keuntungan perusahaan di masa depan.

Akibatnya, nilai masa depan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten growth cenderung menurun sehingga valuasinya lebih ketat di mata investor.

“Ketika tingkat diskonto naik, maka nilai masa depan dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten-emiten growth ini akan cenderung menyusut, sehingga valuasinya terlihat menjadi lebih ketat atau mahal,” kata sumber.

Meski sejumlah sektor tertekan akibat suku bunga tinggi, sektor perbankan justru diuntungkan. Bank memiliki peluang meningkatkan margin bunga bersih atau net interest margin saat BI Rate naik.

“Sektor perbankan tetap menjadi sektor yang paling diuntungkan di era suku bunga tinggi ini karena adanya ruang perbaikan pada Net Interest Margin mereka,” lanjut dia.

Risiko perlambatan pertumbuhan kredit tetap ada sebagai konsekuensi kebijakan moneter ketat. Namun, industri perbankan kini lebih siap dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Namun, kalau kami perhatikan historisnya, tren perlambatan kredit ini sebenarnya sudah mulai terjadi secara bertahap sejak mencapai titik puncaknya di tahun 2024 lalu. Jadi, perbankan kami sudah jauh lebih siap memitigasi risiko tersebut,” ungkapnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index