MEDIAKEUANGAN.ID — Mojtaba Khamenei, putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan seruan ini saat umat Muslim Syiah memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, Minggu (30/8). Ini menjadi penampilan perdananya sejak resmi menduduki kursi pemimpin tertinggi Iran, menggantikan sang ayah yang terbunuh pada 28 Februari lalu.
Ia menegaskan bahwa persatuan adalah kunci untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi negara-negara Islam. "Solusi untuk masalah-masalah negara-negara Islam adalah persatuan ucapan, persahabatan, dan kerja sama di jalan kebaikan," kata Mojtaba, dikutip dari AFP.
Seruan untuk Mengenali Musuh Sejati
Dalam pidatonya, Mojtaba secara khusus menyapa para penguasa negara-negara di kawasan. Ia meminta mereka untuk "mengenali musuh sejati Anda, memahami rencananya, dan menghadapinya", yang merujuk pada AS dan Israel.
Mojtaba juga memperingatkan bahaya perpecahan di tengah umat Muslim. "Siapa pun, dalam posisi apa pun, yang melakukan sesuatu yang menyebabkan perpecahan di antara umat Muslim dan menciptakan konflik dalam komunitas Muslim, baik disadari maupun tidak disadari, disengaja maupun tidak disengaja, telah melayani tujuan musuh-musuh Islam," tambahnya.
Ketegangan dengan Negara Teluk
Seruan ini muncul di tengah memburuknya hubungan Iran dengan sejumlah negara Timur Tengah. Selama perang berlangsung, Iran menargetkan pangkalan militer AS di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Bahrain.
Akibatnya, hubungan diplomatik Iran dengan negara-negara tersebut ikut memburuk. Mojtaba pun meminta para pejabat dan warga Iran untuk mengesampingkan perbedaan dan fokus menghadapi musuh bersama.
"Sekali lagi, nasihat hamba Tuhan ini kepada rakyat Iran adalah untuk tidak membiarkan perbedaan apa pun muncul di antara mereka dalam bentuk apa pun," ujarnya. "Saya dengan tegas menyatakan bahwa melakukan apa pun yang merugikan kohesi sosial dilarang."
Langkah Ekonomi di Tengah Blokade
Selain isu geopolitik, Mojtaba juga menyoroti kondisi ekonomi Iran yang tengah tertekan. Ia menyerukan pengurangan penggunaan dolar secara bertahap dalam perekonomian domestik. Langkah ini disebutnya sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi setelah berbulan-bulan menghadapi blokade angkatan laut AS.
Ia juga mendorong peningkatan produksi dalam negeri agar Iran bisa lebih mandiri di tengah tekanan internasional yang terus berlanjut.