MEDIAKEUANGAN.ID — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fondasi ekonomi nasional tetap kokoh meskipun menghadapi tekanan geopolitik dan proteksionisme perdagangan global. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Pleno ISEI XXV dan Seminar Nasional ISEI 2026 di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (27/8/2026).
Data yang dirilis pemerintah menunjukkan inflasi terjaga di level 2,88 persen hingga Juli 2026, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 119. Aktivitas manufaktur juga masih berada di atas ambang ekspansi 50, menandakan sektor industri tetap bergerak positif.
Kredit Investasi Tumbuh Hingga 24,9%, Jadi Motor Pembiayaan Produktif
Dari sektor perbankan, penyaluran kredit tercatat tumbuh 12,67 persen secara tahunan. Yang lebih menonjol, kredit investasi melesat hingga 24,9 persen, mengindikasikan pembiayaan untuk kegiatan produktif dan ekspansi usaha berjalan agresif.
Realisasi investasi pada paruh pertama 2026 juga menunjukkan penguatan, terutama dari program hilirisasi sumber daya alam. Posisi cadangan devisa tetap solid, setara dengan 5,5 bulan impor, memberikan bantalan yang cukup terhadap gejolak eksternal.
Pemerintah Waspadai Risiko El Nino dan Gejolak Harga Pangan
Airlangga menegaskan pemerintah tetap mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu kesinambungan pertumbuhan. Salah satu perhatian utama adalah potensi fenomena El Nino yang dapat memengaruhi ketersediaan dan kebutuhan komoditas pangan di dalam negeri.
Untuk menjaga momentum, pemerintah menyiapkan kebijakan yang diarahkan pada penguatan sektor-sektor berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Digitalisasi, industri semikonduktor, dan pengembangan AI menjadi prioritas yang membutuhkan penguasaan teknologi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam industri semikonduktor, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Inggris, ARM, untuk mempersiapkan tenaga kerja kompeten sesuai kebutuhan industri. Digitalisasi juga diperluas ke sektor strategis seperti pertanian dan energi untuk mendukung kesiapan penerapan program B50.
Perluasan Pasar Ekspor dan Aksesi OECD Terus Berjalan
Pemerintah melanjutkan deregulasi dan memperluas hubungan dagang dengan negara mitra. Indonesia kini telah memiliki 25 perjanjian perdagangan internasional, termasuk keanggotaan CPTPP yang melibatkan 12 negara.
Proses aksesi menuju OECD juga memasuki tahap Technical Review. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan standar dan kualitas tata kelola ekonomi nasional agar sejajar dengan negara maju.
ISEI Dorong Sinergi Tiga Pilar Menuju Indonesia Maju
Forum ISEI 2026 mengangkat tema "Penguatan Sinergi Pemerintah, Pelaku Usaha, dan Akademisi dalam Mendorong Stabilitas Ekonomi Dinamis, Hilirisasi-Industrialisasi, serta Ekonomi Kerakyatan Menuju Indonesia Maju." Organisasi yang berdiri sejak 14 Januari 1955 ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara akademisi, birokrat, dan profesional.
Forum ini dirancang untuk menghasilkan rekomendasi konkret bagi arah kebijakan ekonomi nasional maupun daerah. Pada sektor mineral, pemerintah juga melakukan penyesuaian kebijakan dengan memperkuat mekanisme bursa mineral agar pembentukan harga dan pengelolaan komoditas memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional.