Struktur Pengendalian BCA Kini Sepenuhnya Dipegang Robert Budi Hartono

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:11 WIB
Ilustrasi Menara BCA di Bundaran HI, Jakarta Pusat (FOTO: NET)

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara resmi kini memuat satu Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT).

Robert Budi Hartono memegang kendali penuh atas institusi perbankan swasta terbesar di tanah air ini seiring berpulangnya Bambang Hartono.

Pembaruan struktur pengawasan ini telah diregister oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat Surat Nomor SR 21/PB.333/2026 pada 29 Juli 2026.

Pihak BCA menerima pemberitahuan tertulis tersebut pada 30 Juli 2026.

Corporate Secretary BCA dari sumbernya memaparkan, pergeseran peta pengawasan ini terjadi pascameninggalnya Bambang Hartono selaku salah satu pemilik saham PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), entitas pemegang kendali BCA.

Dahulu, PT DIA dikelola bersama oleh Bambang Hartono beserta Robert Budi Hartono.

Usai wafatnya Bambang Hartono, pengawasan PT DIA seutuhnya beralih menuju Robert.

"Dengan perubahan di tingkat perusahaan induk tersebut, Robert resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA secara tunggal," demikian keterbukaan informasi BCA yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/7/2026).

dari sumbernya menyatakan bahwa penyesuaian ini sama sekali tidak mengubah persentase kepemilikan modal Robert Budi Hartono pada PT DIA.

Alokasi sahamnya bertahan pada porsi 51 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor utuh.

Penyesuaian yang bergulir murni berhubungan dengan susunan kepemimpinan pascameninggalnya Bambang Hartono.

Pihak pengelola BCA menjamin penyesuaian penanggung jawab tertinggi ini tidak membawa imbas bagi kelancaran operasional maupun kondisi finansial entitas.

"Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi dan kinerja keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan," tulis dari sumbernya.

Pihak BCA turut menjamin aktivitas bisnis serta pelayanan kepada nasabah tetap berlangsung normal seperti biasa.

Penyesuaian ini murni mencakup urusan administratif di level pemegang saham pengendali.

Di sisi lain, pergerakan saham BBCA berakhir terkoreksi 1,94 persen menuju posisi Rp 6.325 per lembar pada sesi penutupan Jumat (31/7/2026).

Walau mengalami penurunan pada hari tersebut, tren saham BBCA masih mencatatkan kenaikan 1,61 persen sepanjang lima hari terakhir.

Rekapitulasi transaksi bursa turut mencatat adanya aksi jual bersih (net sell) oleh penanam modal asing sebesar Rp 100,4 miliar pada ekuitas BBCA sampai akhir pekan lalu.

Tags

Terkini