6 Trik Ampuh Berbasis Sains agar Anak Lahap Makan Sayur

Rabu, 08 Juli 2026 | 08:34:07 WIB
Ilustrasi Anak Menolak Makan Sayur, Sumber: bebeclub.

JAKARTA – Mengajak anak-anak untuk mau mengonsumsi sayur sering kali menjadi sebuah perjuangan berat bagi orang tua. Forum pola asuh pun kerap dipenuhi oleh pertanyaan cemas mengenai kenormalan anak yang hanya mau makan makanan berwarna pucat.

Kecenderungan anak menyukai rasa manis memang sudah dimulai sejak dini, bahkan rasa ASI pun cenderung manis. Namun, pola makan yang buruk dapat memengaruhi kognisi, konsentrasi, perilaku, prestasi akademik, hingga meningkatkan risiko obesitas.

Beruntung, para peneliti berhasil menemukan sejumlah solusi inovatif untuk memperbaiki kebiasaan makan anak. Berikut adalah enam hal sederhana berbasis sains yang bisa diterapkan di rumah.

Pertama, berikan paparan sesering mungkin pada masa usia dini, khususnya usia prasekolah, karena dapat membawa perubahan besar.

"Jika Anda tidak mulai meningkatkan paparan sayuran pada anak saat menginjak usia lima tahun, itu [hampir] sudah terlambat," kata Marion Hetherington, profesor biopsychology di University of Leeds, Inggris. "Itu adalah pesan yang sangat keras, tetapi faktanya jika mereka melewatkan semua paparan itu, bukannya tidak mungkin [untuk mengubahnya], tetapi akan menjadi kerja keras."

Studi menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan 5 hingga 15 kali paparan sebelum akhirnya mau menerima makanan baru tersebut.

Kedua, sajikan sayuran terlebih dahulu saat anak sedang lapar-laparnya daripada menjual narasi bahwa makanan itu sehat. Strategi ini efektif karena anak cenderung memakan apa yang paling mereka sukai terlebih dahulu sehingga menghilangkan persaingan dengan makanan tinggi kalori.

Ketiga, perbanyak porsi makanan sehat dengan cara mengubah rasio piring makan jika menyajikan sayur di awal terasa sulit. Anda bisa menyiasatinya dengan memarut wortel atau labu siam ke dalam saus, sebab menambah porsi sayur hingga 50 persen terbukti efektif.

Keempat, ubah tampilan sayuran menjadi bentuk yang menarik seperti kupu-kupu, bunga, atau beruang karena anak-anak makan dengan mata mereka. Menyajikan sayuran potong dalam wadah bersekat juga terbukti meningkatkan konsumsi sayur pada balita hingga 36 persen.

Kelima, biasakan untuk makan bersama karena orang tua adalah contoh utama bagi pola makan anak di rumah. Makan bersama keluarga minimal tiga kali seminggu dikaitkan dengan pola makan yang jauh lebih sehat dan berat badan ideal.

Keenam, buat suasana makan yang menyenangkan tanpa memaksa anak untuk menghabiskan makanan mereka. Membiarkan anak bermain dengan makanan, seperti menyentuh dan mencium tekstur sayuran, bisa mengurangi rasa takut mereka terhadap makanan baru.

"Ada sesuatu tentang konsep gamifikasi dan terlibat dalam permainan sensorik yang berhasil pada anak-anak," ujarnya. "Ketika berada di lingkungan yang sangat santai, santai, dan tanpa tekanan, anak-anak sangat bersedia untuk bermain sedikit dengan makanan dan mencicipi serta mencoba dan bereksperimen dengan berbagai hal."

Melalui pendekatan sensorik yang santai ini, cara anak merasakan makanan dapat dibingkai ulang dengan lebih positif.

Terkini