JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah diperkirakan mengalami penguatan terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari ini. Pada penutupan pasar sebelumnya, mata uang Indonesia ini mencatat kenaikan sebesar 0,36 persen hingga mencapai posisi Rp17.840 per dolar AS, sementara indeks dolar AS mengalami penurunan 0,10 persen ke level 101,25.
Di kawasan Asia, pasar mata uang bergerak secara bervariasi dengan rincian sebagai berikut:
Yen Jepang mengalami penurunan sebesar 0,05 persen
Yuan China mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen
Dolar Singapura mengalami penurunan sebesar 0,01 persen
Won Korea Selatan mengalami penurunan sebesar 0,49 persen
Dolar Hongkong mengalami penurunan sebesar 0,02 persen
Dolar Taiwan mengalami kenaikan sebesar 0,08 persen
Baht Thailand mengalami kenaikan sebesar 0,20 persen
Ringgit Malaysia mengalami kenaikan sebesar 0,51 persen
Dari faktor eksternal, situasi pasar dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara pihak AS dan Iran yang membayangi kesepakatan damai, kendati kedua negara tetap berkomitmen melanjutkan dialog di Qatar. Konflik di Selat Hormuz juga sempat menimbulkan kekhawatiran terkait pasokan minyak mentah dunia.
Selain itu, sejumlah pejabat Bank Sentral AS memberikan pernyataan yang cenderung ketat. Pimpinan Fed Minneapolis memperkirakan kenaikan suku bunga sekali pada tahun 2026, sedangkan pimpinan Fed Chicago dan Fed New York berfokus pada tingkat inflasi inti yang dinilai masih tinggi.
Sementara dari dalam negeri, para investor tengah mengantisipasi rilis data perekonomian pada awal Juli, khususnya mengenai neraca perdagangan serta angka inflasi nasional. Informasi ini akan menjadi instrumen penting untuk memproyeksikan kondisi ekonomi domestik serta arah pergerakan rupiah ke depan.
Guna perdagangan hari ini, nilai tukar mata uang garuda diprediksi bergerak dinamis namun tetap berpeluang mengakhiri sesi di zona hijau pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.860 per dolar AS.