Premi Risiko Indonesia Naik Kebijakan Fiskal Semester 2 Jadi Penentu

Selasa, 30 Juni 2026 | 11:55:39 WIB
Ilustrasi Kebijakan Fiskal, Sumber: pajak.

JAKARTA - Persepsi risiko investasi Indonesia yang tercermin melalui angka Credit Default Swap (CDS) mencatatkan kenaikan menjelang akhir Juni 2026. Langkah dan arah kebijakan fiskal pemerintah pada semester II/2026 diproyeksikan bakal menjadi salah satu faktor utama yang menentukan prospek premi risiko ke depan.

Berdasarkan data pasar terbaru, CDS Indonesia tenor 10 tahun merangkak naik ke kisaran level 144 pada akhir pekan ini. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan posisi pekan sebelumnya yang berada di sekitar 140, maupun awal bulan ini di kisaran 139. Searah, CDS tenor 5 tahun juga terkerek naik menuju level 90 dari posisi pekan lalu di level 87.

Merujuk dokumen CDSAQ, CDS 5 tahun secara spesifik berada di posisi 89,044 bps dan CDS 10 tahun di level 142,743 bps, dengan kurva yang menanjak dari tenor pendek ke tenor panjang.

Kendati menunjukkan tren penguatan, pergerakan ini dinilai masih sejalan dengan status Indonesia yang berada pada level layak investasi (investment grade). Saat ini, peringkat utang RI didukung oleh S&P dan Fitch di level BBB, Moody’s di Baa2, serta StarMine implied rating di level BBB.

Namun, pelaku pasar tetap memberikan catatan karena secara tahunan (year-on-year/yoy), CDS 5 tahun tercatat melesat 13,17% dan CDS 10 tahun naik 11,70%. Kenaikan premi risiko ini mencerminkan dinamika pasar yang menuntut kompensasi lebih tinggi di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan tingginya yield Surat Berharga Negara (SBN).

David Sumual mengonfirmasi adanya kenaikan risiko investasi jika dibandingkan dengan awal tahun. Indikator utamanya terlihat dari derasnya aliran modal asing yang keluar (capital outflow), di mana secara year-to-date (ytd) dana asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi domestik sudah menembus lebih dari Rp70 triliun.

Kendati demikian, David melihat masih ada ruang perbaikan performa di paruh kedua tahun ini. Salah satu sentimen positif datang dari harga minyak mentah dunia yang mulai melandai ke level sebelum konflik AS-Iran, yang berpotensi meredakan tekanan belanja APBN.

“Pemerintah juga terus berupaya menjaga kredibilitas fiskal melalui langkah efisiensi anggaran, salah satunya lewat penghematan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat MSCI menunda review status pasar Indonesia ke November dan pelaku pasar masih menanti hasil review dari lembaga pemeringkat S&P,” kata David.

Optimisme terhadap fundamental ekonomi dalam negeri juga disuarakan oleh Harry Su. Merujuk pada outlook S&P, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan tetap solid di level 5,1% dengan laju inflasi yang terkendali di angka 3,2%.

Menurut Harry, estimasi PDB dari lembaga pemeringkat internasional ini menjadi sinyal kuat bagi pasar surat utang bahwa risiko gagal bayar (Implied Probability of Default) Indonesia relatif rendah. Posisi CDS yang berada di kisaran 90 bps menunjukkan investor masih menaruh kepercayaan tinggi pada ketahanan ekonomi nasional.

Merespons dinamika pasar ini, pelaku pasar disarankan untuk menerapkan strategi investasi yang lebih berhati-hati. David Sumual mengimbau investor mengambil sikap prudent dan lebih selektif dalam mengidentifikasi momentum akumulasi aset.

Senada, Novani Karina Saputri merekomendasikan penempatan portofolio secara defensif melalui alokasi yang seimbang.

“Investor dapat memanfaatkan kombinasi antara saham, aset berisiko rendah, serta instrumen pendapatan tetap dengan durasi pendek hingga menengah. Instrumen reksa dana pasar uang juga sangat disarankan untuk menjaga likuiditas serta fleksibilitas sembari mencermati momentum pemulihan pasar,” pungkas Novani.

Terkini