JAKARTA - Penilaian terhadap potensi besar PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dalam memperkokoh perekonomian nasional disampaikan oleh ekonom dari sumbernya.
Kendati demikian, ukuran pencapaian lembaga tersebut ditegaskan tidak boleh sekadar dipatok dari besaran transaksi yang dipantau.
Indikator keberhasilan yang jauh lebih vital adalah kapasitas DSI dalam menyumbat potensi kebocoran pendapatan negara.
Langkah ini meliputi penanganan tindakan under-invoicing, transfer pricing, sampai manipulasi harga ekspor yang selama ini mengikis kas negara.
“Jika itu efektif, basis pajak, PNBP, royalti, dan devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri akan meningkat. Jadi efek fiskalnya berasal dari perbaikan governance dan kepatuhan, bukan semata dari aktivitas perdagangan yang lebih besar,” ujar pakar tersebut saat dihubungi, Selasa (25/8).
Melalui sudut pandang ekonomi makro, PT DSI dianggap berpeluang memperkuat pasokan valuta asing di pasar dalam negeri.
Kehadiran DSI diharapkan mampu menjamin Devisa Hasil Ekspor (DHE) terdata secara presisi serta kembali masuk ke dalam sistem keuangan nasional.
“Semakin besar devisa ekspor yang tercatat, direpatriasi, dan bertahan di sistem keuangan nasional, semakin kuat dukungannya terhadap Rupiah dan stabilitas eksternal,” jelasnya.
Namun demikian, catatan diberikan bahwa dampak besar tersebut hanya dapat terwujud apabila DSI menyatu secara penuh dengan regulasi DHE, perpajakan, bea cukai, serta pengawasan transaksi lintas batas secara ketat.
Di lain sisi, pemerintah diimbau agar keberadaan PT DSI tidak menjelma menjadi beban tambahan bagi para pelaku industri.
Peringatan disampaikan agar lembaga ini tidak menjadi pemicu bertambahnya birokrasi baru yang justru memicu kenaikan ongkos ekspor.
Konsentrasi utama DSI diwajibkan tetap pada keterbukaan harga, penyatuan data, dan penegakan hukum tanpa merusak efisiensi.
“Kalau governance-nya kuat, DSI bisa menjadi instrumen penting untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus ketahanan eksternal. Tetapi kalau implementasinya tidak efisien, manfaat devisa yang diperoleh bisa tergerus oleh penurunan daya saing eksportir,” pungkas pakar dari sumbernya.