JAKARTA - Otoritas moneter bank sentral melaporkan total akumulasi aliran modal asing yang masuk ke dalam sektor pasar keuangan domestik menyentuh angka fantastis mencapai delapan setengah miliar dolar AS pada paruh triwulan kedua tahun ini.
Arus modal eksternal tersebut utamanya ditopang oleh daya tarik instrumen investasi surat berharga negara serta produk sekuritas rupiah yang diterbitkan oleh bank sentral.
Dari sumbernya menyatakan bahwa tren positif masuknya modal asing tersebut terus berlanjut memasuki triwulan ketiga seiring meningkatnya daya tarik instrumen keuangan berdenominasi mata uang rupiah.
"Aliran investasi portofolio asing pada kuartal II-2026 mencatat net inflows sebesar US$8,5 miliar, terutama didukung oleh SBN dan SRBI, yang kemudian berlanjut pada kuartal III-2026 seiring meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik rupiah," ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/8).
Di samping itu, dari sumbernya mengungkapkan bahwa nilai tukar mata uang Garuda kembali menunjukkan penguatan menjelang penghujung bulan Juli setelah sebelumnya sempat tertekan akibat eskalasi ketegangan geopolitik serta pergeseran ekspektasi suku bunga global.
Mata uang nasional tercatat ditutup pada level tertentu terhadap dolar AS pada penutupan akhir Juli.
Sebelumnya, nilai tukar sempat mengalami fase pelemahan yang dipicu oleh memanasnya konflik regional di kawasan Timur Tengah serta menguatnya prediksi pasar terhadap pengetatan kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat.
Guna mengamankan stabilitas pasar finansial, pihak bank sentral secara konsisten memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai di sektor perbankan dan pasar uang.
Salah satu kebijakan operasional yang ditempuh mencakup pengaktifan kembali fasilitas lelang instrumen pembiayaan repo dengan berbagai pilihan jangka waktu tenor mulai dari tiga bulan hingga satu tahun penuh.
Di samping langkah tersebut, otoritas moneter tetap melanjutkan aksi pembelian surat berharga negara di pasar sekunder secara terukur sebagai bagian dari instrumen operasi moneter.
Dari sumbernya memaparkan bahwa akumulasi total pembelian instrumen surat berharga oleh bank sentral hingga akhir bulan Juli telah mencapai angka ratusan triliun rupiah.
"Pembelian SBN sepanjang 2026 hingga 31 Juli 2026 telah mencapai Rp195,25 triliun, di mana Rp79,6 triliun dibeli di pasar sekunder," kata PJs Gubernur BI tersebut.
Menurut penjelasan dari sumbernya, serangkaian kebijakan strategis tersebut dieksekusi demi menjamin ekspansi peredaran uang primer tetap berada pada level yang kuat.
"Langkah tersebut tentunya dengan harapan dapat menjaga pertumbuhan uang primer tetap tinggi atau double digit seperti di akhir Juli yang meningkat sebesar 15 persen dan menjaga kecukupan likuiditas perekonomian," pungkas Destry.