Rupiah Diproyeksi Bergerak Fluktuatif dan Melemah Menuju Rp17.600

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:24:24 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: rakyatsulsel.fajar.

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari ini diproyeksikan akan bergerak fluktuatif namun memiliki kecenderungan ditutup melemah. Mata uang dalam negeri diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Melalui data pasar paling baru, mata uang rupiah pada penutupan sebelumnya terkoreksi sebesar 22 persen menuju level Rp17.700 per dolar AS.

Penurunan nilai tukar mata uang Garuda ini berjalan selaras dengan melemahnya sebagian besar mata uang di wilayah Asia.

Dalam catatan yang ada, yen Jepang mengalami koreksi sebesar 22 persen, yuan China menyusut 05 persen, dolar Singapura turun 22 persen, dan won Korea mengalami pelemahan hingga 24 persen.

Di samping itu, dolar Hong Kong juga tergerus 03 persen, dolar Taiwan melemah 33 persen, rupee India berkurang 10 persen, ringgit Malaysia merosot 03 persen, peso Filipina melemah 20 persen, serta baht Thailand yang mengalami penurunan 31 persen.

Keadaan geopolitik global saat ini dikabarkan sudah mulai sedikit tenang. Walaupun begitu, beban dari dalam negeri dirasa tetap membayangi laju pergerakan dari mata uang rupiah.

Pasar ekuitas dalam negeri juga terlihat masih terbebani oleh adanya aksi jual yang dilakukan oleh para investor.

Kondisi ini pada prosesnya menahan ruang bagi mata uang Garuda untuk mendapatkan penguatan.

Kini perhatian dari para pelaku pasar sedang mengarah pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang segera diumumkan besok hari.

Bank sentral diperkirakan bakal mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk mempertahankan stabilitas rupiah sekaligus menekan gejolak di dalam pasar keuangan.

Selain ketetapan terkait suku bunga itu, pelaku pasar pun tengah menunggu statement resmi dari Bank Indonesia.

Pernyataan tersebut dinilai dapat memulihkan keyakinan atas prospek ekonomi di dalam negeri.

Kebijakan yang lebih agresif atau hawkish dari Bank Indonesia dianggap dapat menjadi stimulan positif bagi nilai tukar rupiah untuk jangka pendek.

Sementara itu, dari pihak pemerintah dikabarkan bahwa beban jual yang berlangsung di pasar surat berharga negara atau SBN saat ini terhitung masih minim serta berada pada kondisi yang aman.

Pemerintah pada waktu sebelumnya telah menyediakan dana paling sedikit Rp2 triliun pada tiap harinya demi mengeksekusi aksi pembelian kembali atau buyback SBN di pasar sekunder.

Akan tetapi, pada praktiknya, total penyerapan dana tersebut rupanya berada sangat jauh di bawah target yang sudah dipatok.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, [tetapi] hanya dapat Rp600 miliar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," ujarnya.

Tindakan intervensi yang dijalankan di pasar obligasi itu tidak terlepas dari situasi terkini, yang mana masih didapati aliran modal asing yang keluar atau capital outflow dari pasar SBN.

Berdasar pada data kementerian, terhitung dari awal tahun sampai 24 April 2026, arus modal asing yang keluar dari pasar SBN sudah menyentuh angka Rp20 triliun.

Terkini