Pertamina SAF: Inovasi Energi untuk Mendukung Penerbangan di Indonesia

Jumat, 25 Oktober 2024 | 20:55:04 WIB

Bali – PT Pertamina (Persero) menunjukkan komitmen kuat untuk mengembangkan bisnis Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Keyakinan Pertamina ini disampaikan oleh Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha, A. Salyadi Saputra, pada sesi panel bertajuk “Global and Regional Collaboration Potential on Sustainable Aviation Fuel” dalam acara Bali International Air Show 2024, yang berlangsung pada Rabu (18/09) di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Salyadi memaparkan rencana pengembangan SAF Pertamina ke depan di seluruh Pertamina Grup, mencakup aspek teknologi, finansial, dan dukungan kebijakan pemerintah. Semua upaya ini bertujuan untuk memperkuat peran SAF dalam industri aviasi Indonesia.

“Pertamina telah siap mendukung pemanfaatan SAF. Melalui Pertamina Patra Niaga, kami sudah memiliki lisensi Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dan Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU), yang memungkinkan kami untuk menjadi pemasok SAF. Selain itu, Pertamina juga melakukan peningkatan teknologi di kilang untuk menjadi green refinery, demi memproduksi SAF secara optimal. Harapan kami, upaya ini didukung seluruh elemen masyarakat, baik nasional maupun internasional, agar tercapai manfaat bersama untuk masa depan,” jelas Salyadi.

Lebih lanjut, Salyadi menjelaskan peran ganda Pertamina sebagai BUMN: mendukung pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional, dan menjalankan bisnis dengan kinerja finansial yang sehat dan berkelanjutan. Pertamina melihat SAF sebagai bisnis potensial untuk industri aviasi dan secara serius mengembangkan sektor ini.

“Kami telah berhasil dengan produk biofuel seperti B35 yang sukses diterapkan di Indonesia, dan mungkin akan meningkat ke B40 atau B50. Adapun SAF, pasar Pertamina tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga memiliki potensi untuk merambah pasar global. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dioptimalkan,” lanjut Salyadi.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, yang turut hadir dalam panel tersebut, menyatakan optimismenya atas potensi besar Indonesia dalam bisnis SAF. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan mitra strategis global, seperti Airbus, untuk menjajaki pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.

“Saya yakin satu negara tidak bisa mencapainya sendiri, dan peran Pertamina sangat penting dalam inisiatif ini. Selain itu, kami juga mengundang negara lain, organisasi transportasi udara, dan perusahaan global seperti Airbus untuk ikut berperan,” ungkap Luhut.

Menurut Luhut, forum dan diskusi ini sangat penting untuk berbagi pengalaman, meningkatkan pengetahuan, dan memperkuat roadmap efisiensi bahan bakar di Indonesia dan dunia.

“Forum ini adalah langkah penting untuk berbagi pengalaman dan memajukan target Net Zero Emission pada tahun 2060. Saya kira Indonesia dapat mewujudkan target ini melalui kolaborasi internasional,” tambah Luhut.

Sebagai pemimpin dalam transisi energi, Pertamina berkomitmen untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan menjalankan berbagai program yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasinya.

Terkini