Pertamina Hadirkan Solusi SAF untuk Industri Aviasi Berkelanjutan

Sabtu, 26 Oktober 2024 | 16:42:03 WIB

Bali – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk mengembangkan bisnis Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, sebuah langkah optimis yang disampaikan oleh Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, A Salyadi Saputra, dalam sesi panel bertajuk “Global and Regional Collaboration Potential on Sustainable Aviation Fuel.” Acara ini diadakan pada perhelatan Bali International Air Show 2024, Rabu (18/09), di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Salyadi memaparkan berbagai rencana pengembangan SAF di Pertamina Group dari sisi teknologi, finansial, hingga dukungan kebijakan pemerintah. Langkah ini bertujuan agar pemanfaatan SAF dapat berkembang optimal dalam industri aviasi Indonesia.

“Pertamina telah siap dengan SAF. Melalui Pertamina Patra Niaga, kami telah memperoleh lisensi Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dan Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU) untuk menjadi pemasok SAF. Selain itu, Pertamina terus mengembangkan kilang agar mampu menjadi ‘green refinery’ yang optimal dalam memproduksi SAF. Kami berharap seluruh elemen masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia, mendukung inisiatif ini. Kesadaran kolektif tentang pentingnya SAF bagi masa depan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan,” ungkap Salyadi.

Ia juga menekankan bahwa sebagai BUMN, Pertamina memiliki peran ganda. Pertama, sebagai mitra pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional; kedua, sebagai entitas bisnis yang harus memiliki kinerja finansial yang berkelanjutan. Melihat SAF sebagai peluang bisnis potensial dalam industri aviasi, Pertamina serius mengembangkan segmen ini.

“Pertamina juga telah mengembangkan biofuel seperti B35, yang sukses diterapkan di Indonesia, dan ke depan mungkin akan berlanjut ke B40 atau B50. Sementara itu, SAF memiliki potensi pasar internasional di samping domestik, dan kami yakin Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dengan potensi sumber daya alam yang melimpah,” pungkas Salyadi.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang hadir pada panel yang sama, menyatakan keyakinannya bahwa Pertamina dapat menjadi pelopor pengembangan SAF di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam bisnis SAF, dan untuk mewujudkannya diperlukan kolaborasi dengan mitra strategis, termasuk perusahaan global. Luhut mengapresiasi langkah Pertamina yang menjalin kerja sama dengan Airbus dalam rangka membangun ekosistem SAF di Indonesia.

“Saya percaya satu negara tidak bisa melakukannya sendiri. Pertamina sangat penting bagi Indonesia sebagai perusahaan BUMN yang tangguh. Namun, kami juga membutuhkan partisipasi dari negara lain dan perusahaan global, termasuk dari sektor transportasi udara dan mitra seperti Airbus,” ujar Luhut.

Menurutnya, forum diskusi seperti ini sangat penting untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan menata roadmap efisiensi bahan bakar di Indonesia dan dunia.

“Forum ini sangat bernilai karena memungkinkan kami untuk berbagi pengalaman dan bekerja sama. Target nol emisi pada tahun 2060 hanya bisa dicapai jika kita bersatu,” tambah Luhut.

Sebagai pemimpin transisi energi di Indonesia, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui program-program yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), selaras dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan.

Terkini