Faktor Global dan Fiskal Jadi Penentu Aliran Dana Masuk Pasar SBN

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:33 WIB
Ilustrasi Obligasi (FOTO: NET)

JAKARTA - Sejumlah pakar ekonomi berpendapat bahwa pasar surat berharga negara masih diminati oleh para pemodal dari luar negeri.

Fluktuasi global serta evolusi kebijakan fiskal diproyeksikan menjadi beberapa elemen penentu masuknya modal asing ke instrumen tersebut.

Pimpinan bidang ekonomi dari sebuah lembaga perbankan mengungkapkan bahwa lonjakan tajam imbal hasil surat berharga negara sejak pertengahan tahun ini telah mendongkrak daya tarik instrumen tersebut bagi investor internasional.

Berdasarkan data bulanan per tanggal tertentu, tercatat adanya masuknya dana sebesar sembilan triliun rupiah pada instrumen tersebut.

Sementara itu, catatan sejak awal tahun menunjukkan total modal masuk telah mencapai enam belas triliun rupiah.

“Outlook ke depannya akan sangat bergantung dinamika global dan perkembangan fiskal dalam negeri,” ujar sumbernya kepada media, awal pekan ini.

Pakar keuangan sekaligus manajer riset strategis dari sebuah institusi riset melihat peluang pergerakan modal asing ke pasar surat berharga masih terbuka secara positif, meskipun para investor kini mengambil sikap lebih waspada.

Kenaikan suku bunga acuan bank sentral dalam rentang waktu tertentu telah memicu lonjakan imbal hasil sehingga valuasi instrumen tersebut kembali memikat.

“Selisih imbal hasil dengan US Treasury tenor 10 tahun juga masih cukup kompetitif, sehingga pada kuartal II – 2026 aliran dana asing ke pasar obligasi mencapai sekitar US$ 8,5 miliar dan masih berlanjut, meski lebih terbatas, pada awal kuartal III,” terang sumbernya.

Kendati demikian, pengamat tersebut menilai bahwa kesinambungan modal masuk tetap bertumpu pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, dinamika harga minyak akibat ketegangan antarnegara, serta stabilitas nilai tukar mata uang lokal yang berada di kisaran delapan belas ribu rupiah per dolar Amerika Serikat.

“Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung memilih obligasi tenor menengah untuk membatasi risiko durasi,” ucap sumbernya.

Di sisi lain, pengamat tersebut menyatakan bahwa pengunduran diri pimpinan tertinggi bank sentral mendatangkan keraguan dalam jangka pendek karena pelaku pasar memandang kredibilitas serta konsistensi kebijakan moneter sebagai aspek krusial.

Respon awal telah tampak lewat pelemahan mata uang lokal serta koreksi di bursa saham.

Walaupun demikian, penunjukan figur pengganti sebagai pelaksana tugas memberi isyarat bahwa arah kebijakan tidak akan bergeser drastis mengingat sosok tersebut turut serta langsung dalam merumuskan bauran kebijakan bank sentral selama ini.

Oleh sebab itu, pengaruhnya diprediksi lebih condong berupa sentimen jangka pendek selama proses seleksi pimpinan definitif berjalan secara terbuka serta kemandirian otoritas moneter tetap terjaga.

Senada dengan pandangan tersebut, pimpinan ekonomi perbankan turut memandang bahwa dalam rentang waktu dekat, pergantian pucuk pimpinan bank sentral sanggup memperbesar keraguan.

Namun demikian, jajaran dewan pengurus lainnya tetap stabil sehingga muncul ekspektasi kebijakan tidak mengalami pergeseran sampai hadirnya pejabat definitif yang baru.

Menyongsong masa depan, pengamat riset tersebut memperkirakan pergerakan modal asing pada triwulan ketiga tahun ini bakal sangat dipengaruhi oleh perpaduan elemen domestik serta internasional.

Dari kancah dalam negeri, perhatian utama para pemodal tertuju pada konsistensi penjagaan stabilitas nilai tukar, pengendalian laju inflasi sesuai target, serta keberlanjutan instrumen penunjang kebutuhan lindung nilai.

Sementara dari kancah global, sorotan tetap mengarah pada pergerakan imbal hasil obligasi negeri Paman Sam, ketetapan rapat komite pasar terbuka bank sentral Amerika Serikat, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi tingkat risiko.

“Jika diferensial yield tetap menarik dan rupiah lebih stabil, arus masuk modal masih berpeluang berlanjut meski tidak sebesar kuartal sebelumnya,” terang sumbernya.

Berkenaan dengan estimasi imbal hasil surat berharga negara tenor sepuluh tahun, pengamat tersebut memprediksi angka tersebut bakal bergerak pada rentang tujuh koma dua puluh persen hingga tujuh koma lima puluh persen pada kuartal ketiga tahun ini.

Saat ini tingkat imbal hasil berada di sekitar tujuh koma trente persen usai pasar menyesuaikan proyeksi terhadap pengetatan moneter.

Apabila tekanan terhadap mata uang lokal mereda serta minat penanam modal asing pulih, imbal hasil berkejaran turun ke batas bawah kisaran tersebut.

Sebaliknya, jika keraguan kebijakan moneter berlanjut atau bank sentral Amerika Serikat kembali memberikan sinyal pengetatan agresif, imbal hasil masih menyimpan potensi merangkak naik mendekati tujuh koma lima puluh persen.

“Secara keseluruhan, daya tarik SBN Indonesia tetap kuat dari sisi carry trade, tetapi investor akan semakin selektif hingga arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru benar-benar memperoleh kepercayaan pasar,” ujar sumbernya.

Sementara itu, pimpinan perbankan memperkirakan potensi kenaikan imbal hasil instrumen tersebut cenderung terbatas dibandingkan posisi sekarang, sejalan dengan proyeksi kebijakan moneter ketat hingga penghujung tahun ini.

Di samping pengaruh kebijakan eksternal, dinamika fiskal serta situasi geopolitik khususnya di kawasan Timur Tengah menjadi motor utama, di mana ancaman lonjakan inflasi turut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil.

Terkini