Sebagian Besar Mata Uang Asia Melemah Terhadap Dolar Amerika Serikat

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00:36 WIB
Ilustrasi mata uang asia(FOTO: NET)

JAKARTA - Sebagian besar mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah dinamika pasar global menjelang akhir pekan.

Berdasarkan data perdagangan, dari sepuluh mata uang utama di wilayah tersebut, sebanyak enam di antaranya mengalami pelemahan, tiga mata uang menguat, dan satu mata uang bergerak stagnan.

Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling besar pada perdagangan pagi hari ini.

Mata uang Garuda tersebut melemah sebesar 0,48 persen ke posisi tertentu sehingga kembali bergerak sangat mendekati level psikologis yang cukup tinggi.

Tekanan serupa juga terlihat pada mata uang tetangga, seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, serta dong Vietnam yang turut mencatatkan koreksi.

Di sisi lain, won Korea Selatan justru mampu tampil positif hingga menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di wilayah regional.

Penguatan juga dialami oleh dolar Singapura dan yen Jepang, sementara baht Thailand tercatat bergerak stagnan.

Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat terpantau melemah tipis pada pagi hari ini setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan tajam ke level tertingginya dalam tiga pekan terakhir.

Lonjakan tersebut ditopang oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negeri Paman Sam akibat lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran inflasi dari kebijakan perdagangan global.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh gangguan keamanan di jalur pelayaran energi penting yang memperluas risiko konflik di kawasan Timur Tengah.

Di samping itu, tekanan inflasi juga bertambah dari kebijakan tarif baru yang diberlakukan terhadap puluhan mitra dagang.

Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan, sehingga aset berbasis dolar kembali menjadi daya tarik bagi para investor.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan agenda bank sentral besar pada pekan depan, terutama terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat di tengah meningkatnya tekanan inflasi.

Terkini