Perpanjang Kredit Rp2,17 Triliun Dari Bank Mandiri Saham HRTA Anjlok

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00:21 WIB
Pengurus Hartadinata dalam sebuah public expose 2026 belum lama ini.

JAKARTA - Hartadinata Abadi memperpanjang masa fasilitas kredit modal kerja dari Bank Mandiri senilai 2,17 triliun rupiah.

Perpanjangan itu telah dipatenkan pada perjanjian kredit pada 21 Juli 2026.

Fasilitas kredit tersebut berskema committed, revolving, dan advised.

Masa berlaku fasilitas diperpanjang untuk periode 24 Juli 2026 hingga 23 Juli 2027.

Selain memperpanjang tenor, pihak dari sumbernya dan Bank Mandiri juga menyepakati penyesuaian ketentuan agunan berupa penurunan nilai agunan.

Pihak dari sumbernya menegaskan transaksi dilakukan dengan pihak nonafiliasi maupun benturan kepentingan.

Meski nilai transaksi melebihi 20 persen dari ekuitas, transaksi tersebut dikecualikan berdasar POJK Nomor 17/POJK.04/2020.

Sehingga, pihak dari sumbernya hanya berkewajiban menyampaikan keterbukaan informasi kepada publik.

Pihak dari sumbernya memastikan perpanjangan fasilitas kredit tersebut tidak berdampak buruk terhadap kondisi keuangan, operasional, maupun kelangsungan usaha perseroan.

Perpanjangan fasilitas kredit itu bagian dari upaya menjaga fleksibilitas pendanaan guna mendukung kebutuhan modal kerja.

”Perpanjangan fasilitas kredit mencerminkan kepercayaan Bank Mandiri terhadap fundamental, dan kinerja perseroan,” tegas Ong Deny, Corporate Secretary Hartadinata Abadi.

Dengan dukungan fasilitas pembiayaan berkelanjutan, pihak dari sumbernya memiliki fleksibilitas lebih baik dalam memenuhi kebutuhan modal kerja sekaligus menjaga kesinambungan operasional, dan mendukung strategi pertumbuhan bisnis ke depan.

Selain itu, bagian dari upaya memastikan ketersediaan sumber pendanaan memadai untuk mendukung aktivitas usaha di tengah dinamika industri emas, dan sekaligus mempertahankan struktur pendanaan sehat.

Menyusul transaksi itu, pergerakan saham pihak dari sumbernya justru melepuh.

Sepanjang perdagangan kemarin, saham tersebut susut 2,72 persen setara 55 poin menjadi 1.965 rupiah per lembar.

Dalam tempo enam bulan terakhir, saham pihak dari sumbernya terkoreksi 19,47 persen alias 475 poin dari 26 Januari 2026 di kisaran 2.440 rupiah per eksemplar.

Terkini