Bank Digital Tahan Bunga Deposito Saat BI Rate Naik demi Margin

Senin, 15 Juni 2026 | 21:37:07 WIB
Ilustrasi Bunga Deposito,Sumber: money.kompas.

JAKARTA - Sejumlah bank digital kini mulai bersiap menghadapi berbagai risiko dan tantangan akibat lonjakan suku bunga acuan BI Rate yang bergerak sangat masif akhir-akhir ini. Kebijakan taktis yang diambil oleh pihak manajemen adalah memilih untuk tidak menaikkan tingkat bunga deposito mereka demi menjaga margin keuntungan agar tetap aman.

Padahal, pada masa sebelumnya, sektor perbankan digital selalu identik dengan strategi menawarkan bunga simpanan tinggi demi menarik dana dari masyarakat. Saat ini langkah tersebut diubah akibat tingginya tingkat ketidakpastian ekonomi di pasar.

Krom Bank menjadi salah satu penyedia layanan yang mulai menerapkan skema baru tersebut. Saat ini, tingkat bunga deposito yang ditawarkan berkisar antara 6,5 persen hingga 8 persen. Penawaran ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu yang sempat berada di angka 7 persen sampai 8,25 persen.

Keadaan ini menunjukkan bahwa transmisi penurunan bunga simpanan dari tahun lalu sudah berjalan. Akan tetapi, di tengah situasi suku bunga tinggi sekarang ini, manajemen lebih memilih untuk mempertahankan persentase bunga deposito yang berlaku sekarang demi menerapkan pengelolaan dana yang penuh dengan kehati-hatian.

“Krom Bank akan tetap melakukan benchmarking secara aktif terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran dan keberlanjutan bisnis,” ungkapnya. Selain itu, demi menjaga grafik keuntungan, evaluasi yang mendalam terkait dampak perubahan BI Rate serta penguatan tata kelola risiko akan terus ditingkatkan.

Sekarang, fokus operasional perbankan dialihkan pada penghimpunan dana murah melalui optimalisasi ekosistem digital internal. Di waktu yang sama, penyelarasan dilakukan untuk menekan risiko kredit macet dengan tetap memegang prinsip manajemen risiko secara ketat ketika menyalurkan pinjaman.

Potensi penurunan rasio margin bunga bersih juga terus dipantau setelah adanya kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan. Oleh karena itu, efisiensi pada biaya dana menjadi prioritas paling utama agar margin bunga tetap stabil, sehingga penawaran bunga pinjaman bisa tetap kompetitif di pasar.

Langkah serupa juga diambil oleh Allo Bank yang masih mempertahankan suku bunga deposito mereka di angka 5,5 persen sejak akhir tahun lalu. Pihak manajemen menganggap belum ada urgensi yang mendesak untuk mengubah suku bunga simpanan secara agresif dalam waktu dekat.

Evaluasi secara menyeluruh terus berjalan dengan memantau kondisi likuiditas internal, pola gerakan nasabah, kompetisi pendanaan, hingga target penyaluran kredit ke depan. “Karena itu, pendekatan yang kami ambil adalah tetap fleksibel dan berbasis kebutuhan bisnis, bukan sekadar merespons perubahan BI Rate secara otomatis,” jelasnya.

Apabila nanti ada penyesuaian bunga simpanan, prosesnya akan dikerjakan secara bertahap serta selektif berdasarkan jangka waktu tenor maupun kategori nasabah. Kebijakan itu akan sangat bergantung pada dinamika likuiditas industri serta kebutuhan dana perbankan karena ketatnya persaingan perebutan dana di sektor digital juga menjadi perhatian.

Walau begitu, situasi pasar saat ini dianggap berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu karena likuiditas sektor industri masih berada pada level yang memadai dan pertumbuhan dana pihak ketiga secara umum mampu mengimbangi kebutuhan kredit. Dampaknya, risiko tekanan likuiditas jangka pendek dinilai belum mengkhawatirkan.

Kenaikan biaya dana memang diakui berpotensi memberikan tekanan pada margin bunga bersih. Namun, tata kelola profitabilitas perbankan dipastikan tidak hanya bertumpu pada sektor pendanaan saja, melainkan lewat optimalisasi aset produktif, peningkatan mutu kredit, perbaikan tingkat pengembalian, serta pemacu pendapatan komisi dari transaksi digital.

“Jadi apabila terjadi tekanan terhadap NIM, kami memperkirakan sifatnya akan tetap terkendali dan berada dalam koridor yang dapat dikelola. Fokus kami bukan semata mempertahankan NIM pada level tertentu, tetapi memastikan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas yang berkelanjutan,” katanya.

Terkini