JAKARTA - Penanaman modal di Indonesia konsisten mencatatkan tren positif di tengah guncangan perlambatan ekonomi dunia.
Sejumlah analis menganggap kontribusi Danantara Indonesia dapat dimaksimalkan agar ekspansi modal tidak sebatas mendatangkan margin keuntungan finansial, melainkan juga memperluas daya tampung industri, menyerap tenaga kerja, serta menghadirkan efek ekonomi yang terukur.
Dalam Pidato Kenegaraan pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto menerangkan bahwasanya perolehan investasi nasional berhasil menyentuh Rp1.931 triliun sepanjang 2025 serta Rp1.010 triliun pada paruh pertama 2026.
Capaian positif tersebut diukir tatkala perekonomian global diperkirakan bakal melandai menuju level 3,0 persen pada 2026 merujuk pada estimasi IMF.
Kepala Negara turut menaruh harapan agar Danantara Indonesia memegang peran strategis dalam agenda penataan ulang serta konsolidasi BUMN, sembari menyokong penguatan iklim investasi nasional secara terencana dan terukur.
Peran nyata tersebut di antaranya tecermin lewat 19 proyek hilirisasi yang telah mengawali tahap groundbreaking, serta penggarapan proyek strategis nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Pengamat ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP) Doni Satria berpendapat Danantara mengantongi kedudukan strategis guna memperkokoh perputaran roda ekonomi nasional.
Kendati demikian, alokasi penanaman modal wajib diarahkan pada proyek yang mengantongi kelayakan bisnis, tata kelola yang transparan, serta keselarasan terhadap prioritas pembangunan.
“Danantara bisa mendorong aktivitas ekonomi yang lebih baik di Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, sejauh investasinya tepat sasaran dan dikelola secara hati-hati,” kata dari sumbernya.
Menurut pandangan dari sumbernya, pengelolaan investasi oleh Danantara harus memperhitungkan faktor efisiensi dan tingkat pengembalian modal, sekaligus kesesuaian terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Program hilirisasi komoditas alam dapat dijadikan salah satu prioritas lantaran mengantongi skala usaha dan prospek imbal hasil yang masif.
Meski begitu, ekspansi hilirisasi pun mesti dibarengi dengan pembenahan sektor industri penyokong supaya faedah investasi sanggup menjangkau lebih banyak pelaku usaha lokal.
“Kalau ada investasi besar, strateginya adalah investasi besar yang juga mendorong industri kecil,” ujarnya.
Memandang dari sudut pandang dunia usaha, Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Feiral Rizky Batubara menganggap Danantara mampu menempati posisi sebagai anchor investor guna membuka ikatan kerja sama jangka panjang.
Berdasarkan penilaian dari sumbernya, besaran nilai nominal investasi bukanlah satu-satunya parameter keberhasilan.
Penanaman modal sepatutnya turut memberikan ruang bagi korporasi nasional untuk terlibat melalui skema joint venture, co-investment, pengadaan barang dan jasa, hingga penguatan rantai pasok dalam negeri.
Kadin, tutur dari sumbernya, menilai tolok ukur keberhasilan investasi Danantara semestinya diukur dari financial return sekaligus keandalan dalam menguatkan kapasitas, skala bisnis, dan daya saing entitas usaha di Indonesia.
Oleh sebab itu, alokasi investasi skala besar harus memiliki keterikatan erat dengan industri domestik agar memicu efek berganda bagi vendor lokal, pelaku UMKM, penyerapan tenaga kerja, dan sektor industri pendukung.
Keterlibatan entitas industri nasional pun mesti diperhitungkan sejak awal melalui pemetaan rantai pasok dan pemenuhan kebutuhan industri penunjang.
“Dengan pendekatan tersebut, Danantara dapat menjadi penghubung antara modal besar dan kapasitas industri nasional. Jadi, investasi tidak hanya menghasilkan aset dan keuntungan, tetapi juga ikut menciptakan ekosistem ekonomi baru serta memperkuat fondasi industri Indonesia dalam jangka panjang,” kata dari sumbernya.
Danantara pada saat ini mulai merealisasikan agenda hilirisasi lewat 19 proyek yang telah menyelesaikan proses groundbreaking.
Inisiatif proyek tersebut mencakup sektor pertambangan mineral, energi, sampai sektor pertanian dengan estimasi nilai mencapai Rp225 triliun.
Danantara juga menggarap sektor energi terbarukan melalui proyek percontohan PSEL yang bertempat di Denpasar, Bali.
Proyek yang menyedot nilai investasi sebesar Rp3 triliun tersebut ditargetkan sanggup mengolah 1.500 ton sampah per hari dan mulai beroperasi pada semester I 2028.
Agenda pembangunan tersebut menjadi bagian dari target nasional dalam mewujudkan 33 PLTSa hingga tahun 2029.
Eskalasi penanaman modal juga tecermin jelas dalam data indikator ekonomi nasional.
Sektor investasi tercatat tumbuh 6,87 persen pada kuartal II 2026, melampaui angka pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang berada di level 5,06 persen.
Di sisi lain, sektor hilirisasi mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,9 persen.
Realisasi investasi pada semester I 2026 menembus angka Rp1.010,6 triliun dengan daya serap mencapai 1,45 juta tenaga kerja langsung, atau melonjak 15 persen.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menuturkan bahwa arus investasi menjadi salah satu fondasi utama penopang ekonomi nasional.
Walau begitu, pihaknya menegaskan bahwa indikator keberhasilan investasi wajib diukur dari kontribusi nyatanya terhadap taraf hidup masyarakat.
“Seperti yang Pak Presiden sampaikan bahwa angka-angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir, tapi bagaimana kami bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat. Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baik, yang berkualitas, sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup dari masyarakat kami,” ujarnya.